Pengasuhan: Konsep, Tujuan dan Strateginya

Published September 25, 2010 by dita8

2.1 Konsep atau definisi pengasuhan

Berdasarkan sejarahnya pengasuhan merupakan sebuah alat penyampaian pesan kepada anak mengenai nilai-nilai sehingga menjadi suatu variasi antar budaya dalam masyarakat. Dimana pada awal abad 20, pengasuhan masih dianggap mudah dikarenakan masyarakat pada saat itu memiliki keyakinan bahwa salah satu tujuan hidup manusia adalah untuk melayani Tuhan dan mengikuti ajaran agam yang berlaku.

Sebelum lebih lanjut memahami mengenai pengasuhan maka harus mengatahui pengertian dan konsep dari pengasuhan itu sendiri. Menurut kamus, pengasuhan sering disebut pula sebagai child-rearing yaitu pengalaman, keterampilan, kualitas, dan tanggung jawab sebagai orangtua dalam mendidik dan merawat anak. Pengasuhan atau disebut juga parenting adalah proses menumbuhkan dan mendidik anak dan kelahiran anak hingga memasuki usia dewasa. Sedangkan berdasarkan diktat mata kuliah pengasuhan (Dwi Hastuti, 2010) pengasuhan adalah pengetahuan, pengalaman, keahlian dalam melakukan pemeliharaan, perlindungan, pemberian kasih sayang dan pengarahan kepada anak. Selain itu pengertian yang lain dari pengasuhan adalah saat dimana orangtua memberikan sumberdaya paling dasar kepada anak, pemenuhan kebutuhan anak, kasih sayang, memberikan  perhatian dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anak. Pengertian pengasuhan yang disebutkan dalam diktat sejalan dengan yang dijabarkan oleh Myre (1992) bahwa pengasuhan ini mencagkup beberapa aktivitas yaitu: melindungi anak, memberikan perumahan atau tempat perlindungan, pakaian, makanan, merawat anak (termasuk memandikan, mengajarkan cara buang air, dan memelihara ketika anak sakit), memberikan kasih sayang dan perhatian pada anak, berinteraksi dengaan anak dan memberikan stimulasi kepadanya, serta memberikan kemampuan sosialisasi dengan budayanya. Sedangkan dalam buku Berns R.M dalam bukunya yang berjudul Child, Family, School, Community Social and Support dijelaskan bahwa Jerome Kagan-seorang psikolog perkembangan Jerman- (1975) menyebutkan bahwa pengasuhan merujuk pada serangkaian implementasi dari berbagai keputusan tentang sosialisasi pada anak –apa yang harus dilakukan orang tua untuk menjadikan anak sebagai individu yang bertanggung jawab dan mampu memberikan kontribusi terhadap masyarakat, serta apa yang terbaik dilakukan orang tua dalam menghadapi beragam sifat anak ketika menangis, agresif, berbohong, marah, dll.

Pengasuhan adalah sebuah proses bidirectional –perilaku orang dewasa dalam menghadapai anak seringkali merupakan reaksi yang muncul dari perilaku anak. (Learner et al., 1995)

Berdasarkan buku Parenting karangan J.B. Brooks chapter 1 dijelaskan bahwa pengasuhan adalah sebuah proses,  yang di dalamnya terdapat hubungan yang unik antara orang tua dan anak. Secara umum, pengasuhan dapat dideskripsikan sebagai aksi dan interaksi orang tua dalam membangun perkembangan dan pertumbuhan anak. Jay Belsky, dalam tulisannya menyatakan, terdapat tiga hal yang mempengaruhi proses pengasuhan, yakni individu dan karakteristik seorang anak, latar belakang orang tua dan kondisi psikologis, serta kondisi tekanan dan dukungan sosial.

Seorang anak, terutama bayi dan balita sangat membutuhkan dukungan dalam pengasuhan dari orang tua dan juga dari lingkungan sekitarnya. Bronfenbenner dan Pamela Morris menyatakan, seorang anak akan mendapatkan pertumbuhan yang optimal jika terjalin hubungan dua arah dengan orang, benda, maupun simbol yang ia temukan pertama kali di lingkungan sekitarnya. Bronfebenner dan Morris pecaya bahwa interaksi seperti ini sangat penting untuk dilakukan secara berkesinambungan agar menjadi hubungan yang lebih kompleks dan akan menjadi stimulus dalam perkembangan seorang anak.

Sedangkan dalam chapter kedua dikatakan bahwa menurut ilmu sosial pengasuh memiliki tugas untuk menyediakan :

  1. kebutuhan fisik : makan
  2. kebutuhan emosi : cinta
  3. perlindungan, keselamatan, keterampilan social
  4. moral dan nilai

Dalam bacaan Parenting in the 21st Century: A Return to Community, Yolanda K H Bogan dijelaskan konsep pengasuhan, yaitu konsep keluarga besar. Secara historis, orang tua telah menggunakan keluarga besar dan masyarakat terkait untuk membantu dalam membesarkan anak-anak (Lihat forehand & kotchick, 1996; Garcia-Coll, Meyer & Brillon, 1995; keduanya dikutip dalam thomas, 2000). Billingsley (1968) menjelaskan empat jenis keluarga besar: (a) subfamilies-pasangan atau orang tua / angka dua anak, hidup dengan anggota keluarga, (b) keluarga dengan sekunder-keluarga anggota yang menerima anggota keluarga lainnya, (c) ditambah keluarga – orang yang tidak berhubungan yang tinggal di rumah tangga sebagai suatu unit keluarga, dan (d) “kerabat darah tidak” – orang yang diterima sebagai anggota keluarga. ini anggota keluarga yang terakhir diidentifikasi oleh Stack (1974) sebagai “kerabat fiktif”.

Konsep lain mengacu pada tiga cabang kerangka dalam mendukung pemikiran bagi perasaan orangtua lewat pengalaman komunitas pengasuhan, yaitu pertama, Orangtua terlibat lebih dalam merawat anak, seperti rata-rata keluarga, akan nuklir atau pecahan, tidak dapat hidup dalam pengasingan. Kedua, kita tidak membesarkan anak-anak kita di lingkungan yang mendukung keberadaan pengasingan. Kita harus mengajar anak-anak kita untuk berinteraksi, menjadi masyarakat independen. Pengalaman anak-anak dimulai dari belajar di rumah (Kupets, 1998). Belajar mengenai pola-pola perilaku, sosialisasi dan interaksi yang terjadi dalam unit keluarga internal biasanya diterjemahkan menjadi situasi sosial eksternal, seperti penitipan anak, sekolah, dan pengaturan kerja, sampai tantangan dari pengaruh lain.

Ketiga, intrafamilial (dalam), extrafamilial (luar) dan interfamilial (antara) faktor pengaruh pengasuhan dan perkembangan anak. Collins, Maccoby, Steinberg, Hetherington, dan Bornstein (2000) menemukan [bahwa] “orangtua dan rekan-rekan bergabung dalam pengaruh anak berkembang” (p.227). Para penulis ini lebih lanjut menunjukkan bahwa gaya pengasuhan yang ada antara keluarga juga berdampak pada dugaan anak sebagai tersangka sebagai rekan yang berpengaruh. Gaya pengasuhan yang digunakan oleh orang tua dari teman-teman anak memiliki dampak langsung terhadap perkembangan sosial seluruh anak-anak dalam kelompok bermain tersebut. Harris (2000) menambahkan bahwa pentingnya peer group tidak dapat diabaikan mengingat bahwa “anak-anak cenderung berperilaku sama dengan cara rekan-rekan mereka dan saudara berperilaku dalam konteks itu” (hal. 633).

2.2 Tujuan pengasuhan

Bedasarkan buku duktat mata kuliah pengasuhan dikatakan bahwa dalam melakukan pengasuhan pada seorang anak para orangtua atau pengasuh memiliki beberapa tujuan tertentu, dimana tujuan pengasuhan pada masa kanak-kanak berbeda dengan tujuan pegasuhan pada masa remaja, kuliah ataupun dewasa. Pengasuhan pada masa anak-anak lebih berfokus pada kondisi fisiknya. Pada usia remaja pengasuhan berfokus pada keterampilan motorik yang berhubungan dengan kegiatan akademi dan non akademis. Dan untuk usia kuliah serta dewasa pengasuhan lebih bertujuan untuk kegiatan pekerjaan dan sosial. Selain tujuan-tujuan yang telah dijabarkan di atas adalah untuk meningkatkan kompetensi fisik, gizi, dan keehatan anak. Selain itu juga untuk meningkatkan kompetensi intelektual, emosi, sosial, dan morl serta kepercayaan diri anak.

Selain hal di atas dalam buku Berns R.M tahun 1997 dikatakan bahwa menurut LeVine (1977; 1988) terdapat tujuan-tujuan pengasuhan secara universal (luas), yaitu :

  • Memastikan kesehatan fisik dan kemampuan bertahan hidup.
  • Membangun kapasitas tingkah laku agar mampu mandiri secara ekonomi.
  • Menanamkan kapasitas tingkah laku untuk memaksimumkan nilai kebudayaan, seperti moral, prestise, dan prestasi.

Berdasarkan buku Parenting karangan J.B. Brooks chapter 1 dijelaskan bahwa pengasuhan bagi seorang anak dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan optimal yang berkorelasi dengan kualitas masa depannya. Sedangkan pengasuhan bagi orang tua sangat berpengaruh dalam perkembangan psikologis. Orang tua dari berbagai latar belakang meyatakan, mereka lebih terbuka dalam mengekspresikan cinta dan menyatakan emosi setelah memiliki anak. Orang tua sangat menikmati saat memperhatikan dan mendampingi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Hal ini meunjukkan bahwa seorang anak akan memberikan pengaruh bagi orang tuanya, yakni orang tua akan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya, menjadi orang dewasa yang lebih matang, memiliki jaringan dan komunitas sebagai orang tua, dan akan meningkatkan rasa cinta sebagai pasangan. Sedangkan dalam chapter 2 dikatakan bahwa orang tua mempunyai 3 tujuan untuk mengasuh anak : kesehataan fisik dan rasa nyaman, persiapan anak untuk bias menghemat, berani secara positif, missal kompetensi intelektual. Sosialisasi pada anak untuk bias bertanggung jawab dan menjadi orang yang produktif secara ekonomi. Dengan memberikan priorotas untuk berkompetensi secara sosial ada 3 poin:

  1. Pengasuhan adalah sebuah proses yang berpengaruh
  2. Pengasuhan itu langsung dan tidak langsung
  3. Komplek interaksi

Dan yang terkhir tujuan pengasuhan yang di dapat dalam bacaan Parenting in the 21st Century: A Return to Community, Yolanda K H Bogan adalah mendapatkan perhatian dari anak-anak yang pada abad sekarang telah berkurang akibat adanya permainan dan fasilitas-fasilitas baru yang berkontribusi terhadap hilangnya keterhubungan antara keluarga dengan masyarakat. Penanam nilai dan karakter pada anak juga menjadi fokus dalam tujuan pengasuhan serta memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Peak (2003) menganjurkan kesempatan lain untuk menyampaikan Sembilan nila-nilai untuk anak sebagai jalan mempertinggi kepaduan keluarga. Nilai-nilai ini adalah komitmen, pujian, komunikasi, konsisten, disipli, keamanan, tanggung jawab, kesadaran, dan kebebasan.

Kita harus mengajar anak-anak kita untuk berinteraksi, menjadi masyarakat yang mandiri. Menurut Kupets, 1998, pengalaman anak-anak dimulai dari belajar di rumah. Lingkungan pergaulan social adalah aspek penting bagi perkembangan anak dimana orangtua memilih untuk bekerja di luar rumah, tinggal di rumah, atau menjadi individu berpengaruh dalam kehidupan anak-anak.

2.3 Strategi pengasuhan yang dapat dilakukan orangtua/keluarga, komunitas, pemerintah (pemangku kebijakan)

Dalam bacaan buku Parenting karangan J.B. Brooks chapter 2 hanya terdapat strategi pola pengasuhan untuk orangtua, dimana terdapat 6 dimensi antara lain : boding, proteksi, sensitive, respon, pendidikan, dan kedisiplinan. Bonding sangat penting setelah masa kecil selesai tetapi akan dihentikan pada masa remaja. Proteksi, respon, sensitive, sangat penting sama dengan sikap, dengan pendidikan dan disiplin lebih jauh dibawah usia anak. Selain itu para orangtua juga harus mempersiapkan beberapa keahlian seperti keahlian fisik, intelektual, emosi, sosial, dan moral. Tidak hanya itu para orangtua juga harus memiliki peran pengasuhan otoritatif, serta adanya pengaruh budaya dan sosial ekonomi terhadap pengasuhan.

Sedangkan dalam chapter 1 orang tua membawa latar belakang dan pola hidup masing-masing dalam proses pengasuhan. Ketika menjadi orang tua, sudah seharusnya mengadaptasi kualitas individu terhadap aturan hidup yang baru. Interaksi orang tua dan anak sangat dibutuhkan, karena anak belajar dari berbagai macam interaksi yang dilakukannya dengan orang tua. Rose Parke dan Raymond Buriel menyatakan, orang tua memiliki harapan dalam proses interaksi untuk membangun sosialisasi dan pertumbuhan anak-anaknya yang terangkum dalam tiga hal, pertama sebagai partner yang interaktif terhadap anak-anaknya. Kedua, sebagai instruktur atau guru yag membimbing secara langsung anak-anaknya. Ketiga, dapat melengkapi kebutuhan dalam mentimulasi pertumbhan anak.

Orang tua dan masyarakat saling membantu dalam  proses pengasuhan anak. Dalam konteks masyarakat sosial, terdapat tiga hal yang diperhatkan dalam proses pengasuhan anak. Pertama, interaksi anak dengan lingkungan sekitarnya. Kedua, berbagai bentuk pengaruh sosial terhadap pengasuhan, dan faktor perlindungan dan faktor risiko dalam konteks sosial.

Interaksi dengan lingkungan, seperti yang dikatakan oleh Bronfenbenner, perkembangan anak diengaruhi oleh stimuasi lingkungan. Pola interaksi yang biasa dilakukan oleh anak dengan orang tua, pengasuh, guru, dan sebagainya termasuk ke dalam lingkungan mikro. Lingkungan meso, adalah interaksi antara orang tua dan orang lain yang juga turut memberikan pengasuhan terhadap anak, seperti hubungan orang tua dengan guru di sekolah. Lingkungan ekso meliputi ligkungan atau institusi yang dapat mempengaruhi pengasuhan anak, namun tidak berperan secara langsung, seperti lingkungn kerja orang tua, dan pemerintahan. Lingkungan makro adalah konteks kultural yang melingkupi interaksi antara anak, orag tua, institusi, dan sebagainya. Lingkungan yang terakhir adalah lingkungan krono, yang memperngarui perkembangan karena pubertas, pernikahan, dan sebagainya.

Pengaruh sosial terbentuk karena sistem kultural yang di dalamnya terdapat kepercayaan tentang berbagai hal, meliputi, pentingnya pengasuhan, aturan dalam keluarga besar dan masyarakat, tujuan dari pengasuhan, cara pendisiplinan dalam pengasuhan, dan atuaran dalam pergaulan anak-anak. Hal terahir dalam koteks sosial adalah, faktor risiko, yang menunjukkan keterbatasan dalam berbagai hal yang dikareakan keterbatasan penghasilan. Hal ini mempengaruhi rendahnya kesehatan, rendahnya pertumbuhan, dan rendahnya kelas sosial. Hal ini biasa disebut dengan kemiskinan. Berdasarkan penelitian, ada 10 karakteristi lingkungan dalam faktor risiko yang berkorelasi dengan kompetensi anak, yakni rendahnya mental ibu, tingginya tingkat kebimbangan atau stres ibu, kuatnya kepercayaan tentang pertumbuhan berdasarkan kultur, rendahnya interaksi positif yang diberikan ibu, rendahnya pendidikan ibu, pekerjaan orang tua yang tanpa keahlian, status sosial yang kurang baik, orang tua tunggal, kehidupan yang penuh tekanan, dan ukuran keluarga yang terlalu besar. Sedangkan faktor perlindungan adalah tingginya kualitas hidup yang berhubungan dengan tingginya penghasilan. Individu yang memiliki kualitas baik tecermin dari tempramen atau emosi yang stabil, kesehatan yang baik dan kualitas lingkungan yang baik, seperti lingkungan sekolah yang terjamin kebersihannya, dan tempat pengasuhan yang baik.

Di dalam buku Berns R.M tahun 1997 dijelaskan beberapa studi pembelajaran yang membandingkan gaya pengasuhan dari keluarga yang memiliki status sosial ekonomi tinggi dan rendah (Hess, 1970; Maccoby, 1980; Hoff-Ginsberg & Tardiff, 1995), diantaranya :

  • Orang tua yang memiliki status sosio-ekonomi lebih rendah cenderung menekankan ketaatan, rasa hormat, kerapihan, kebersihan, dan menjauhi masalah, sedangkan orang tua dari status sosio-ekonomi lebih tinggi lebih suka menekankan kebahagiaan, kreativitas, ambisi, kebebasan, kewaspadaan, dan kontrol pribadi.
  • Orang tua yang memiliki status sosio-ekonomi lebih rendah cenderung lebih mengontrol, otoriter, dan sewenang-wenang dalam kedisiplinan mereka dan siap menggunakan hukuman fisik, sedangkan orang tua dari status sosio-ekonomi lebih tinggi cenderung lebuh demokratis. Mereka lebih suka menggunakan gagasan dengan anak mereka dan menjadi terbuka dengan opini anak mereka.
  • Orang tua yang memiliki status sosio-ekonomi lebih tinggi cenderung menunjukkan kehangatan dan kasih saying kepada anak mereka daripada orang tua dari status sosio-ekonomi yang lebih rendah.
  • Orang tua yang memiliki status sosio-ekonomi lebih tinggi lebih banyak berbicara dengan anaknya, memikirkan gagasan dengan anaknya, dan menggunakan bahasa yang kompleks daripada orang tua dari status sosio-ekonomi yang lebih rendah.

Selain itu dalam buku diktat mata kuliah pengasuhan dikatakan terdapat beberapa strategi yang harus dilakukan oleh orangtua dalam melakukan pengasuhan. Terutama dalam mendukug kompetensi seorang anak, diantaranya adalah:

  1. Keterlibatan orangtua dalam menyediakan kesempatan untuk menumbuhkan kompetensi pada anak.
  2. Memberikan kesempatan untuk eksplorasi bebas dan pemberian tugas.
  3. Dipengaruhi oleh gaya pengasuhan orangtua.
  4. Memberikan teladan perilaku.
  5. Membentuk kelekatan emosi dan menciptakan keharmonisan keluarga.
  6. Membimbing perilaku anak untuk mencapai tujua hidupnya.

Dan yang terakhir adalah berdasarkan bacaan Parenting in the 21st Century: A Return to Community, Yolanda K H Bogan, dikatakan bahwa strategi pengasuhan yang dapat dilakukan pada abad 21 ini adalah dengan mencari informasi pengetahuan tentang perkembangan anak melalui media seperti internet. Seperti pernyataan Bank Roberts, 1998, peran perubahan pria dan wanita, dan basis pengembangan ilmu pengetahuan tentang perkembangan anak telah menyebabkan banyak orangtua untuk mencari jenis tambahan sumber daya dan sistem dukungan, dan pernyataan Littlefield, 1996, terkait dengan internet , yang memungkinkan orang tua dari anak-anak untuk elektronik berbagi dan mendiskusikan pengalaman membesarkan anak dan nasihat.

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah dengan melalui bidang pendidikan dengan menggunakan paradigma masyarakat untuk mencapai komunikasi yang lebih baik antara orangtua dan sekolah serta dukungan sesama untuk melayani siswa menurut Villa, 2003. Dengan demikian kepala sekolah dapat memperoleh manfaat dari pengembangan kelompok penasihat (komite sekolah) untuk berbagi visi dan ide-ide mereka untuk meningkatkan hasil pendidikan. Orang tua pun akan mendapat manfaat jika melakukan hal yang sama.

Selain itu, dalam buku, Budidaya anak-anak yang baik di masa-masa sulit: 7 kebiasaan penting bagi keberhasilan orang tua, McIntire (1999) mencatat bahwa saat ini orangtua sangat menantang karena contoh berbahaya, dan sikap untuk anak-anak yang terekspos. McIntire membahas tujuh kebiasaan yang orangtua dapat diadopsi untuk membantu mereka membangun hubungan yang baik dengan anak-anak mereka. Di antaranya, McIntire mengingatkan orang tua untuk mendengarkan anak dengan baik, mengajar anak dengan baik, dan mengirim pesan yang tepat tentang nilai-nilai dan karakter.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mendirikan sebuah komunitas bagi para orangtua sebagai tempat saling bertukar pikiran dan berbagi pengalaman. Untuk mendirikan sebuah komunitas pengasuhan yang sukses tersebut, parenting abad 21 harus menjawab beberapa pertanyaan mendasar: Siapa individu dan kelompok yang berpotensi memberikan dampak, pengaruh, dan yang terlibat dalam perkembangan anak kami, dan bagaimana kita sebagai orangtua memanfaatkan satu sama lainnya dalam hubungan dekat  yang dapat menaikkan minat terbaik anak?

Jalan lain agar keluarga terhubung adalah dengan membatasi frekuensi dari alat-alat elektronik, seperti televise. Sesuatu yang sederhana seperti berkumpul bersama keluarga ketika makan. Dabat membuat dampak yang baik dalam memelihara kelekatan antara orangtua dan anak (Franklin dan Bankston, 1999).

Ada lima komunitas parenting yang terdapat dalam bacaan; yaitu keluarga dan kerabat, penyedia jasa penitipan anak, sekolah, orangtua lainnya, serta komunitas agama. Komunitas parenting adalah sebagai hasil untuk parenting dasar. Hal itu mendorong hubungan pengembangan dan pemeliharaan dengan lainnya. Pada akhirnya, yang demikian investasi sumber daya manusia dalam melayani minat terbaik anak. Parenting abad 21 disarankan kembali pada komunitas dan membuat desa atau komunitas parenting, jaringan komunitas individu, tidak membutuhkan batas-batas relative, untuk mendukung proses parenting.

Daftar Pustaka

Bab I Diktat Kuliah Pengasuhan

J.B. Brooks. 2001. Parenting. Mayfield Publish Company (Chapter 1 dan Chapter 2)

R.M. Berns. 1997. Child, Family, School, Community Social and Support. Harcourt Brace Collage Publihers (Bab Ecology Parenting)

Artikel: Yolnda K.H. Bogan. Parenting in 21st Century: A return to Community.

5 comments on “Pengasuhan: Konsep, Tujuan dan Strateginya

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Join 61 other followers

    %d bloggers like this: