Ringkasan Bacaan Praktek Sukses Pembangunan “Gotong-Royong Rutin Berbuah Jalan Desa cerita kemandirian masyarakat Amarasi Kupang, NTT”

Published November 11, 2010 by dita8

Oleh:
Dita Putri Astrini (I24080061)
Asisten Praktikum:
Hana Indriana

Karakteristik kehidupan Amarasi
Kecamata Amarassi Barat terletak diantara pantai dan Hutan Lindung Professor Johannes, dimana dapat ditempuh selama dua jam dengan kendaraan bermotor dari KUpang, ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur. Salah satu desa di daerah tersebut yang masih lestari pola hidup gotong-royongnya adalah di Desa Tunbaun. Desa seluas 38,87 Ha ini dihuni oleh 2.663 jiwa yang terbagi dalam 705 kepala keluarga (KK). Salah satu daerah di desa tersebut masih terdapat desa yang terisolir, yaitu Desa Malah, dimana sebelum dilakukan penggabungan menjadi desa oleh camat pertama Amarassi yang sekaligus raja terakhir, antara satu temukung (dusun yang teridir dari satu marga saja) dengan temukung lain terpisah jauh.
Kentalnya budidaya agraris berdampak pada waktu pelaksanaan gotong-royong membangun jalan desa. Waktu gorong royong ditetapan pada bulan Juni sampai September. Pada bulan Oktober sampai dengan November biasanya petani sedang mempersiapkan lahan untuk musim tanam. Dan, pada bulan Desember sampai dengan Mei, mereka biasanya akan berada di lading.

Peran aktor dalam pelaksanaan gotong royong
1. Veky Koroh (Raja dan Camat Amarassi), memiliki dan berinisiatif membuka pemukiman baru dan jalan baru. Mensosialisasikan gorong-royong kepada kepala desa dan lurah, serta kepada ketua adat untuk daerah-daerah yang belum efektif tata pemerintahannya. Serta memfasilitasi tempat untuk dipakai sebagai tempat pertemuan antar kepala desa dan lurah se-Amarassi dam mensosialisasikan rencana waktu gotong-royong dan tempat yang dijadikan lokasi gotong royog.
2. Kepala Desa/ Lurah, bertugas mensosialisasikan informasi pelaksanaan gotong royong kepada ketua RT dan RW.
3. RT/RW, memiliki peran untuk meyakinkan dan menggerakkan untuk ikut bergotong-royong membangun pemukiman dan jalan baru.
4. Tetua Adat, memiliki tugas untuk meyakinkan kepala keluaga dalam satu marga untuk lebih membuka diri dan mau bergabung degan marga lain (antar temukung).
5. Kepala Keluarga, memiliki peran dalam mengajak seluruh keluarga untuk mendukung dan dating ke lokasi gotong-royong.
6. Departemen Pembangunan Umum (DPU), memiliki peranan dalam membimbing warga dalam bergotong-royong membuat jalan melalui asistensi teknis proses membuat jalan yang benar, melakukan pemenuhan kebutuhan alat-alat berat dan material pembangunan jalan.
7. Gereja , dikarenakan hampir seluruh penduduk Desa Tunbau memeluk agama Katolik sehingga gerja memiliki peran ang sangat besar dalam kehidupan mereka. Bila masa gotong-royong sudah tiba, gereja turut mensosialisasikan dan menginformasikan kepada jemaatnya untuk mengikuti gotong-royong, serta memperkuat semangat gotong-royong kepada jemaatnya.

Pelaksanaan kegiatan gotong-royong
Pada waktu yang telah ditetapkan untuk bergotong-royong, warga akan berduyun-duyun menuju lokasi yang telah ditetapkan. Terdapat satu strategi yang dilakukan oleh Veky Kokoh untuk menggerakkan masyarakat untuk mau berpartisipasi dalam pelaksanaan gotong-royong. Bagi yang tidak ikut gotong-royong, maka ketika meninggal dunia dia tidak dapat menggunakan jalan yang dibangun dengan gotong-royong. Untuk ke pemakaman dia akan dipikul melewati hutan dimana jalan yang digunakan merupakan jalan bekas perlintasan babi yang menerjang semak belukar. Jika terjadi seperti ini maka matinya orang tersebut menjadi tidak terhormat. Akan tetapi saat ini apabila terdapat warga yang tidak mengikuti gotong-royong tersebut karena alas an yang tidak dapat diterima maka akan dikenakan Kabu (semacam sanksi berupa denda baik berupa dana ataupun waktu berpartisipasi yang lebih panjang).
Didaeah lainnya, bila bergotong royong harus menyediakan kebutuhan makan untuk penduduk yang berggotong royong. Namun didaerah Amarassi para warga membawa sendiri perbekalan makanan. Dimana perbekalan makanan yang dibawa tidak untuk satu hari saja tapi 3-4 hari. Pada bulan Juni-September akan terdapat penduduk yang berjumlah lebih dari 2.000 orang yang akan memberikan tenaganya secara sukarela. Kerja gotong-royong ini tidak hany aberlangsung selama 1-2 jam, akan tetapi 4 hari berturut-turut. Dimana selama 4 hari tersebut para warga tidak ada yang pulang kerumah akan tetapi menginap di base camp yang telah mereka dirikan.
Dalam pelaksanaan kgiatan tersebut terdapat pembagian kerja yang dilakukan oleh masing-masing kelompok. Ada kelompok yang bertugas menyiapkan makan sekaligus menjaga base camp dimana apabila dalam waktu 4 hari perbekalan makanan telah habis, maka anggota yang dibagian logostok akan pulang ke kampung mereka untuk mengambil bahan makanan lagi. Dan yang lainnya masuk kelompok yang ikut kerja bakti membangun jalan tembus. Tidak hanya masyarakat saja yang melaksanakan gotong-royong dan menginap di lokasi akan tetapi para tetua adat dan aparat pemerintahan serta anggoat DPU juga ikut serta dalam kegiatan gotong-royong tersebut.

Dampak dari hasil gotong-royong
Dari hasil gotong-royong tersebut menghasilkan beberapa manfaat yang dirasakan oleh masyarakat sekita, yaitu:
1. Terbangunnya sebanyak 99 jalan tembusan baru.
2. Akses ekonomi menjadi lebih lancer, sehingga mereka (para penduduk) bias menjual hasil produksinya kekota dan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.
3. Akses pendidikan lebih mudah.

Hambatan
Dalam pelaksanaan gotong-royong tersebut terdapat beberapa hamabatan, diantaranya adalah:
1. Hujan yang kadang turun menjadi penghalang untuk melakukan gotong-royong.
2. Pemenuhan kebutuhan material, dimana tidak jarang ditemukan lokasi jalan yang kondisi tanahnya lembek.
Selain hamabatanyang dirasakan selama pelaksaan gotong-royong, juga masih terdapat masalah yang haris dihadapi yaitu:
1. Masalah koordinasi yang dilakukan oleh camat terhadap pelaksanaan gotong-royong.
2. Semakin banyaknya urbanisasi dikalangan penduduk dapat mengakibatkan semakin berkurangnya jumlah penduduk yang ikut bergotong-royong.
3. Kegiatan gotong royong yang bukan lagi sebuah kesadaran akan tetapi menjadi sebuah paksaan akan mengiki nilai-nilai dari gotong-royong tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: