Jangan berjalan di depan orang shalat…

Published December 26, 2010 by dita8

Kejadian ini sudah seringkali aku lihat, selesai sholat berjama’ah ada seseorang (katakanlah A) dg tenangnya berjalan (dari arah shaf depan) di depan orang yg sholat (katakan si B, yg kebetulan ketinggalan menjadi ma’mum), hanya karena si A merasa ibadahnya sudah selesai dan ingin segera keluar.
Tindakan yg aku lihat tidak hanya seperti di atas. Di lain kesempatan, aku juga saksikan si C dg tenangnya melewati pundak si D yg sedang tahiyyat akhir hanya karena ingin bisa keluar dari mushola/masjid. Saudara-saudaraku , TINDAKAN A DAN C INI JANGAN DITIRU!!!

Rasululloh SAW mengecam dengan keras orang2 yg lewat di depan orang yg sedang sholat! Bahkan beliau menyatakan bahwa TINDAKAN/PERBUATAN LEWAT DI DEPAN ORANG YG SHOLAT ADALAH PERBUATAN DOSA, sebagaimana riwayat berikut,Busr bin Abi Sa’id mengatakan bahwa Zaid bin Khalid menyuruhnya menemui Abu Juhaim. Ia perlu menanyakan kepadanya, apa yang pernah ia dengar dari Rasulullah mengenai orang yang berjalan di depan orang yang sedang mengerjakan shalat. Kemudian Abu Juhaim berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Seandainya orang yang lewat di muka orang yang sedang shalat itu mengetahui dosa yang dibebankan kepadanya, niscaya ia berdiri empat puluh lebih baik daripada ia lewat di depannya.”‘ Abu Nadhar (perawi) berkata, “Saya tidak mengetahui, apakah beliau bersabda empat puluh hari, atau empat puluh bulan, atau empat puluh tahun.”

Dari pernyataan Rasululloh SAW di atas nyatalah bahwa lebih baik kita menunggu orang tersebut selesai sholat sebelum kita akhirnya lewat di depannya! Bahkan menunggu hingga empat puluh hari, empat puluh bulan, bahkan hingga empat puluh tahun jauuuh lebih baik dan lebih utama!

Mengapa Rasululloh SAW demikian peduli dan memperhatikan hal ini?

Saudara-saudaraku, ALLOH SWT (melalui Rasul-Nya) menetapkan sholat sebagai rukun Islam no 2 jelas bukan tanpa alasan. Dalam sholat terdapat PERTEMUAN KHUSUS (PRIBADI) antara seorang hamba dengan Sang Khalik. Bagaimana seorang manusia yg lemah, dhaif telah mengkhususkan waktu dan tempat untuk bertemu dan berdialog serta mengadu dan berserah kepada-Nya. Maka ALLOH SWT (melalui Rasul-Nya) melarang orang lain untuk mengganggu pertemuan tersebut.
Bisa dianalogikan, kita bertemu dengan pejabat penting, lalu tiba-tiba ada orang lain dengan seenaknya lewat di antara kita dan pejabat tersebut. Jelas kita akan marah karena pertemuan kita terganggu oleh tindakan ’selonong boy’ tersebut.
Jika kita saja tidak suka pertemuan kita dengan pejabat penting saja diganggu, mengapa kita tidak bisa ‘marah’ apabila pertemuan kita dengan ALLOH SWT diganggu?

Tanya (T): “Lantas, apa yg mesti saya lakukan jika ada orang hendak lewat di depan saya yg sedang sholat?”
Jawab (J): “Segera CEGAH orang tersebut lewat di depan kita!!”

T: “Lho, apakah boleh mencegah orang lewat? Bukankah kita sedang sholat?”
J: “Tentu saja boleh…silakan lihat kembali penjelasan di atas, bahwa perbuatan lewat di depan orang sholat adalah perbuatan terlarang!”

T: “Jika begitu, itu artinya sholat kita tidak khusyu’?”
J: “Sholat yg khusyu’ bukan berarti kita diam saja jika ada kesalahan terjadi di depan kita. Insya ALLOH kita akan bahas di lain kesempatan tentang sholat yg khusyu’.”

T: “Baik, jika kita memang boleh mencegah orang untuk tidak lewat di depan kita, bagaimana caranya?”
J: “Silakan perhatikan hadits berikut”

Abu Sa’id Al-Khudri mengatakan bahwa ia shalat di hari Jumat pada sesuatu yang menutupinya dari manusia. Seorang pemuda dari bani Abu Muaith akan lewat di depannya. Abu Said menolak dadanya. Maka, pemuda itu melihat. Namun, ia tidak mendapat jalan selain di depannya. Lalu, ia kembali untuk melewatinya. Namun, Abu Said menolak lebih keras daripada yang pertama. Maka, ia mendapat (sesuatu yang tidak menyenangkan-penj.) dari Abu Sa’id. Kemudian ia datang kepada Marwan, mengadukan apa yang ia jumpai dari Abu Sa’id. Abu Sa’id datang pula kepada Marwan di belakangnya, lalu Marwan bertanya, “Ada apakah kamu dan anak saudaramu, hai Abu Said?” Abu Sa’id menjawab, “Saya mendengar Nabi bersabda, ‘Apabila salah seorang di antaramu sedang shalat dengan ada sesuatu yang menutupinya dari orang banyak, lalu ada seseorang yang akan lewat di depannya, maka tolaklah ia.’ (Dan dalam satu riwayat: ‘Apabila ada sesuatu yang hendak lewat di depan seseorang di antara kamu ketika ia sedang shalat, maka hendaklah ia mencegahnya. Jika tidak mau, maka hendaklah ia mecegahnya lagi.’ 4192). Jika ia enggan, maka perangilah ia, karena sesungguhnya ia adalah setan.’”

certa lengkapnya:

“Suatu ketika, Abu Sa’id Al Khudri pergi ke Masjid Nabawi, Madinah, melaksanakan shalat Jumat. Sebelum shalat dimulai, Abu Sa’id Al Khudri meletakkan sesuatu di depannya sebagai pembatas dengan orang-orang yang berlalu lalang.
Tiba-tiba, ketika dia sedang shalat, seorang anak muda dari Bani Abu Mu’aith berniat lewat di depannya. Begitu anak muda itu tepat di depannya, dia pun mendorong anak muda itu pada bagian lehernya.

Anak muda itu lalu mencari jalan lain. Tetapi, dia tidak menemukan jalan lain untuk lewat kecuali di depan Abu
Sa’id. Karena itu, anak muda itu kembali leawat di depan Abu Sa’id Al Khudri. Melihat anak muda itu kembali lewat di depannya, lagi lagi Abu Sa’id Al Khudri mendorongnya pada bagian lehernya lebih keras daripada sebelumnya. Anak muda itu pun tidak jadi lewat dan berlalu di sebelah Abu Sa’id. Kemudian, anak muda itu masuk ke dalam kerumunan khalayak dan keluar dari masjid.
Ternyata, anak muda itu kemudian mendatangi rumah Marwan bin Al Hakam, Gubernur Madinah kala itu, yang kelak menjadi penguasa ke-4 Dinasti Umayyah di Damaskus, untuk mengadukan apa yang telah dialaminya. Menerima laporan tersebut, sang Gubernur kemudian memanggil Abu Sa’id Al Khudri. Ketika Abu Sa’id Al Khudri menghadap, sang Gubernur pun menginterogasinya.

“Abu Sa’id, mengapa engkau tadi mendorong kemenakanku yang mau lewat di depanmu? Apa salah dia? Dia tadi melapor kepadaku”
“Marwan bin Al Hakam” jawab Abu Sa’id Al Khudri tenang, “tak ada yang salah dengan apa yang kulakukan tadi. Sebab, apa yang kulakukan tadi sesuai dengan perintah Rasulullah Saw. Aku pernah mendengar beliau bersabda, ‘Apabila salah seorang di antara kalian bershalat dengan menaruh sesuatu di depannya, untuk menghalangi la|u lalang orang, lalu ada seseorang yang ingin lewat di depannya, doronglah dia pada bagian lehernya. Jika dia membangkang, dorong keras dia, karena dia adalah setan.”~~”

Dari hadits di atas yg menjelaskan tentang sikap kita untuk melarang orang lewat di depan kita yg sedang sholat, memang tidak dijelaskan secara rinci bagaimana caranya kita melarang. Namun dari beberapa tulisan, mereka mengajarkan cara melarang orang lewat sebagai berikut:
1. Cukup angkat tangan kita (misalnya sedang posisi bersedekap) hingga setinggi bahu kita. Jika orang tersebut datang dari arah kanan, maka angkat tangan kanan. Sementara jika datang dari kiri, maka tangan kiri yg mesti diangkat.
2. Jika orang tersebut masih ngotot untuk lewat, maka tahan dada dia dengan tangan kita.

catatan tambahan: yg dilarang lewat di sini berlaku untuk jarak 1 sajadah milik kita. Biasanya jaraknya 1 – 1,5 meter ke depan. Jadi misalnya ada orang lewat kira2 lebih dari 1-1,5 meter, diperbolehkan *contoh ini banyak terjadi di Masjidil Haram*

Bagaimana jika buah hati atau anak balita lewat di depan orang shalat?

Syaikh yang mulia, Muhammad ibnu Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu kembali menjawab, “Tidak ada dosa bagi si ibu membiarkan anaknya lewat di hadapannya bila memang si anak sering lalu lalang dan si ibu sendiri khawatir shalatnya terganggu bila terus-menerus mencegah si anak, sebagaimana hal ini dikatakan ahlul ilmi rahimahumullah. Akan tetapi, sepantasnya ketika si ibu hendak shalat, hendaknya memberikan sesuatu kepada anaknya yang bisa dijadikannya sebagai mainan (sehingga si anak asyik dengan benda/mainan tersebut, pen.) sementara si anak berada di sekitar/dekat dengan ibunya. Karena bila seorang anak diberi sesuatu yang bisa dijadikannya sebagai mainan, biasanya mainan itu membuatnya lupa terhadap yang lain. Namun bila si anak terus menggelayuti (nggendholi, Jw.) ibunya karena merasa lapar atau haus, yang lebih utama si ibu menunda shalatnya hingga ia selesai menunaikan kebutuhan anaknya (menyuapi makan atau memberi minum). Setelah itu ia menghadapkan dirinya kepada amalan shalatnya.”
(Majmu’ah As’ilah Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 151-152)

sumber: dari berbagai sumber…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: