Konsep pembelajaran

Published May 15, 2011 by dita8

Konsep pembelajaran
1. Inquiry Based Learning
Metode Inquiry merupakan proses pembelajaran dibangun atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa. Di sini para siswa didorong untuk berkolaborasi untuk memecahkan masalah, dan bukannya sekedar menerima instruksi langsung dari gurunya. Tugas guru dalam lingkungan belajar berbasis pertanyaan ini bukanlah untuk menyediakan pengetahuan, namun membantu siswa menjalani proses menemukan sendiri pengetahuan yang mereka cari. Jadi, guru berfungsi sebagai fasilitator dan bukan sumber jawaban.
Inquiry Based Learning (IBL) didasari atas pemikiran John Dewey, seorang pakar pendidikan Amerika, yang mengatakan bahwa pembelajaran, perkembangan, dan pertumbuhan seorang manusia akan optimal saat mereka dikonfrontasikan dengan masalah nyata dan substantif untuk dipecahkan. Ia percaya bahwa kurikulum dan instruksi seharusnya didasarkan pada tugas dan aktivitas berbasis komunitas yang integratif dan melibatkan para pembelajar dalam tindakan-tindakan sosial pragmatis yang membawa manfaat nyata pada dunia.
Sifat-sifat yang ingin dimunculkan dari para siswa dalam lingkungan IBL ini, menurut Neil Postman dan Charles Weingartner, adalah:
• Percaya diri terhadap kemampuan belajarnya.
• Senang saat berusaha memecahkan masalah.
• Percaya pada penilaian sendiri dan tidak sekedar bergantung pada penilaian orang lain maupun lingkungan.
• Tidak takut menjadi salah.
• Tidak ragu dalam menjawab.
• Fleksibilitas pandangan.
• Menghargai fakta dan mampu membedakan antara fakta dan opini.
• Tidak merasa perlu mendapat jawaban final untuk semua pertanyaan dan lebih merasa nyaman saat tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan sulit daripada sekedar menerima jawaban yang terlalu disederhanakan.
Sedangkan guru dalam lingkungan IBL ini harus bersikap berbeda daripada guru di lingkungan pendidikan konvensional. Mereka selayaknya:
• Menghindari mendikte siswa tentang apa yang perlu mereka ketahui.
• Lebih banyak menggunakan pertanyaan saat bercakap-cakap dengan siswa, terutama pertanyaan yang bersifat mengeksplorasi dan tidak hanya memiliki satu jawaban.
• Tidak menerima jawaban singkat dan terlalu sederhana terhadap pertanyaan.
• Mendorong siswa saling berinteraksi langsung satu sama lain dan menghindari menghakimi sesuatu yang dikatakan siswa saat saling berinteraksi.
• Tidak menyimpulkan diskusi siswa.
• Tidak merencanakan sebelum arah yang pasti dari pengajaran, namun membiarkannya berjalan sesuai respon dan minat para siswa.
• Memastikan pengajaran yang diberikan menantang para siswa menyelesaikan masalah.
• Menilai keberhasilan pengajaran dari perubahan perilaku siswa dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan seberapa jauh siswa memenuhi karakteristik pembelajar optimal yang disebutkan di paragraf sebelumnya.
Bila dijalankan dengan benar, Inquiry Based Learning akan membawa manfaat-manfaat antara lain:
• IBL adalah pendekatan yang baik dalam proses belajar mengajar untuk memberi siswa kesempatan belajar dengan lebih bebas namun juga tetap mengenalkan dan mendidikkan keahlian-keahlian dasar.
• IBL bersifat fleksibel dan cocok untuk bermacam-macam proyek mulai dari yang sangat terbatas sampai yang ekstensif, mulai dari yang berorientasi riset sampai yang kreatif, di dalam laboratorium ataupun di internet.
• Dalam banyak kasus, siswa yang bermasalah di sekolah formal karena tidak merespon terhadap proses menyerap maupun mengingat kembali pelajaran malah bisa bersinar dalam lingkungan kelas IBL, membangun rasa percaya diri, minat, dan harga diri mereka.
• IBL memungkinkan untuk melakukan pembelajaran multidisiplin secara langsung. Jika di kelas konvensional, siswa belajar matematika sebentar, lalu belajar geografi, lalu belajar seni, dan lain-lain, maka di kelas IBL, karena berbasis pertanyaan dan proyek, maka siswa bisa dan bahkan perlu belajar dari beberapa subjek sekaligus.
• Kelas IBL memungkinkan siswa mendapat pembelajaran secara fisik, emosi, dan kognitif.
• IBL cocok untuk mengajarkan pembelajaran kolaboratif. Siswa diajarkan saling berinteraksi dan berkolaborasi untuk memecahkan masalah.
• IBL cocok untuk segala usia. Walaupun siswa yang lebih dewasa bisa mengajukan pertanyaan dan proyek yang lebih canggih dan berbobot, namun semangat mengajukan pertanyaan dan aktivitas mengejar jawabannya bisa juga diterapkan pada siswa-siswa yang lebih muda.
• Pendekatan IBL menyadari bahwa tiap anak telah membawa pengalaman dan pengetahuannya sendiri ke dalam kelas dan justru membawa manfaat bagi pembelajaran kolektif. Bila di kelas konvensional, semua siswa mendapat pengajaran yang standar dan telah ditentukan oleh kurikulum, tidak peduli latar belakang siswa (Salim 2010)
2. Collaborative&Cooperative Learning merupakan metode pembelajaran yang melibatkan siswa bekerja dalam tim atau kelompok. Collaborative learning melibatkan siswa dalam diskusi (termasuk melalui media elektronik atau internet), dalam upaya mencari jawaban atau solusi. Belajar secara kooperatif adalah sebuah pendekatan untuk kegiatan kelas yang diorganisir ke dalam pengalaman belajar sosial dan akademis. Siswa harus bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas kolektif. Semua orang berhasil ketika kelompok berhasil. Pembelajaran terstruktur kooperatif formal, difasilitasi, dan dipantau oleh pendidik dari waktu ke waktu dan digunakan untuk mencapai tujuan kelompok dalam pekerjaan tugas (misalnya menyelesaikan sebuah unit). Setiap materi pelajaran atau tugas dapat disesuaikan dengan jenis pembelajaran, dan kelompok dapat bervariasi dari 2-6 orang dengan diskusi yang berlangsung dari beberapa menit hingga periode tertentu. Jenis strategi formal pembelajaran kooperatif meliputi jigsaw, tugas yang melibatkan kelompok dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, tugas laboratorium atau eksperimen, dan bekerja peer review (misalnya mengedit tugas, menulis). Memiliki pengalaman dan keterampilan yang berkembang dengan tipe ini sering memfasilitasi pembelajaran dan basis pembelajaran informal.
Pembelajaran kooperatif informal menggabungkan kelompok belajar dengan mengajar pasif yang menarik perhatian ke materi melalui kelompok-kelompok kecil di seluruh pelajaran atau dengan diskusi pada akhir pelajaran, dan biasanya melibatkan dua kelompok (misalnya diskusi). Kelompok-kelompok ini seringkali sementara dan dapat berubah dari pelajaran ke pelajaran. Diskusi biasanya memiliki empat komponen yang meliputi merumuskan tanggapan atas pertanyaan yang diajukan oleh pendidik, berbagi tanggapan terhadap pertanyaan yang diajukan dengan pasangan, mendengarkan tanggapan pasangan untuk pertanyaan yang sama, dan menciptakan jawaban yang baru untuk dikembang dengan baik. Jenis pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk memroses, mengonsolidasikan, dan menyimpan informasi yang lebih dalam belajar (PEC 2009).
Dalam pembelajaran kooperatif berbasis kelompok, kelompok-kelompok sebaya berkumpul bersama selama jangka panjang (misalnya selama setahun, atau beberapa tahun seperti di sekolah tinggi atau studi pasca-sekunder) untuk mengembangkan dan berkontribusi untuk satu penguasaan pengetahuan lain dalam membahas topik dengan bahan, mendorong satu sama lain, dan mendukung keberhasilan akademis dan pribadi anggota kelompok. Dasar kelompok belajar efektif untuk belajar materi pelajaran yang kompleks selama satu semester, hubungan peer mendukung, yang pada akhirnya memotivasi dan memperkuat komitmen siswa untuk dalam kelompok sambil meningkatkan harga diri. Base pendekatan kelompok juga membuat para siswa bertanggung jawab untuk mendidik peer group mereka dalam hal anggota tidak hadir untuk pelajaran. Hal ini efektif baik untuk pembelajaran individu, serta dukungan sosial.
Brown & Ciuffetelli Parker (2009) membahas 5 dan penting elemen dasar untuk pembelajaran kooperatif:
1. Interdependensi Positif
• Siswa sepenuhnya harus berpartisipasi dan berupaya dalam kelompok mereka
• Setiap anggota kelompok memiliki tugas/peran/tanggung jawab karena itu harus percaya bahwa mereka bertanggung jawab untuk belajar dan untuk kelompok mereka
2. Interaksi Promotif Face to Face
• Anggota masing-masing mempromosikan keberhasilan orang lain
• Siswa menjelaskan kepada satu sama lain apa yang mereka miliki atau pelajari dan membantu satu sama lain dengan pemahaman dan penyelesaian tugas
3. Akuntabilitas Individual
• Setiap siswa harus menunjukkan master konten yang sedang dipelajari
• Setiap siswa bertanggung jawab untuk belajar dan bekerja, karena untuk menghilangkan “kemalasan sosial”
4. Keterampilan Sosial
• Keterampilan sosial yang harus diajarkan didalam kooperatif yang sukses agar pembelajaran terjadi
• Keterampilan termasuk keterampilan komunikasi yang efektif, interpersonal dan kelompok:
a. Kepemimpinan
b. Pengambilan keputusan
c. Membanguan kepercayaan
d. Komunikasi
e. Keterampilan manajemen konflik

5. Pengolahan kelompok
Setiap kelompok harus menilai efektivitas mereka dan memutuskan bagaimana cara untuk ditingkatkan
Agar prestasi siswa dapat diperbaiki, dua karakteristik yang harus ada adalah: a) siswa bekerja mencapai tujuan kelompok atau pengakuan dan b) kesuksesan sangat bergantung pada masing-masing individu yang belajar
a. Ketika merancang tugas-tugas pembelajaran kooperatif dan struktur penghargaan, tanggung jawab individu dan akuntabilitas harus diidentifikasi. Individu harus tahu persis apa tanggung jawab mereka dan bahwa mereka bertanggung jawab kepada kelompok untuk mencapai tujuan mereka.
b. Semua anggota kelompok harus terlibat dalam agar kelompok untuk menyelesaikan tugas. Agar hal ini terjadi setiap anggota harus memiliki tugas yang mereka bertanggung jawab atas yang tidak dapat diselesaikan oleh anggota kelompok lain.
Pembelajaran Kooperatif memiliki banyak keterbatasan yang dapat menyebabkan proses menjadi lebih rumit maka pertama dirasakan. Sharan (2010) membahas isu mengenai evolusi konstan pembelajaran kooperatif dibahas sebagai ancaman. Karena kenyataan bahwa pembelajaran kooperatif terus berubah, ada kemungkinan bahwa guru bisa menjadi bingung dan kurangnya pemahaman lengkap tentang metode tersebut. Guru menerapkan pembelajaran kooperatif juga dapat ditantang dengan perlawanan dan permusuhan dari mahasiswa yang percaya bahwa mereka sedang ditahan oleh rekan satu tim mereka lebih lambat atau dengan siswa yang kurang percaya diri dan merasa bahwa mereka sedang diabaikan atau direndahkan oleh tim mereka (Miller 2009)
3. Integrated Learning
Untuk mencapai tujuan pendidikan holistik, maka kurikulum yang dirancang harus diarahkan untuk mencapai tujuan pembentukan manusia holistik. Termasuk di dalamnya membentuk anak menjadi pembelajar sejati, yang senantiasa berpikir holistik, bahwa segala sesuatu adalah saling terkait atau berhubungan. Beberapa pendekatan pembelajaran yang dianggap efektif untuk menjadikan manusia pembelajar sejati diantaranya adalah pendekatan siswa belajar aktif, pendekatan yang merangsang daya minat anak atau rasa keingintahuan anak, pendekatan belajar bersama dalam kelompok, kurikulum terintegrasi, dan lain-lain (Megawangi et al 2008).
Pendidikan holistik dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran dengan beberapa cara, diantaranya dengan menerapkan Integrated Learning atau pembelajaran terintergrasi/terpadu, yaitu suatu pembelajaran yang memadukan berbagai materi dalam satu sajian pembelajaran. Inti pembelajaran ini adalah agar siswa memahami keterkaitan antara satu materi dengan materi lainnya, antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain. Dari integrated learning inilah muncul istilah integrated curriculum (kurikulum terintegrasi/terpadu). Karakteristik kurikulum terintegrasi menurut Lake dalam Megawangi et al (2005) antara lain: adanya keterkaitan antar mata pelajaran dengan tema sebagai pusat keterkaitan, menekankan pada aktivitas kongkret atau nyata, memberikan peluang bagi siswa untuk bekerja dalam kelompok. Selain memberikan pengalaman untuk memandang sesuatu dalam perspektif keseluruhan, juga memberikan motivasi kepada siswa untuk bertanya dan mengetahui lebih lanjut mengenai materi yang dipelajarinya.
Integrated curriculum atau sering dikenal dengan istilah interdisciplinary teaching, thematically teaching, dan synergetic teaching memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melihat keterkaitan antar mata pelajaran dalam hubungan yang berarti dan kontekstual bagi kehidupan nyata.
Kurikulum terintegrasi dalam pendidikan holistik membuat siswa belajar sesuai dengan gambaran yang sesungguhnya, hal ini karena kurikulum terintegrasi mengajarkan keterkaitan akan segala sesuatu sehingga terbiasa memandang segala sesuatu dalam gambaran yang utuh. Kurikulum terintegrasi dapat memberikan peluang kepada siswa untuk menarik kesimpulan dari berbagai sumber infomasi yang berbeda mengenai suatu tema, serta dapat memecahkan masalah dengan memperhatikan faktor-faktor berbeda (ditinjau dari berbagai aspek). Selain itu dengan kurikulum terintegrasi, proses belajar menjadi relevan dan kontekstual sehingga memiliki arti bagi siswa dan membuat siswa dapat berpartsipasi aktif sehingga seluruh dimensi manusia terlibat aktif (fisik, sosial, emosi, akademik).
4. Contextual Teaching and Learning (CTL)
Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengonstruksi sendiri pemahamannya secara aktif. CTL disebut pendekatan kontekstual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Rasional
Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar dengan mengalami sendiri bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Pemikiran Tentang Belajar
Proses belajar anak dari mengalami sendiri, mengonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar: anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar: tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar: siswa bekerja dan belajar secara langsung dan guru mengarahkan dari dekat.
Hakekat
Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
• Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
• Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, sedangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
• Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi: observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
• Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, dan bekerja dengan masyarakat.
• Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
• Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah pertanyaan langsung tentang sesuatu yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
• Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhir periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya pada hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.
Penerapan CTL dalam pembelajaran
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik. Kembangkan sifat keingintahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.

5. Experiental learning
Experiential learning merupakan strategi belajar melalui pengalaman (belajar dengan mengalami sendiri). Experiential education (learning by doing) merupakan proses belajar yang melibatkan murid dalam pengalaman sesungguhnya dan dapat memberikan berbagai keuntungan dan akibat lebih lanjut. Melalui pendidikan berpengalaman ini murid-murid melakukan sendiri penemuan-penemuan dan percobaan “kepengetahuanan,” bukan mendapatkan pengetahuan lewat mendengar atau membaca pengalaman orang lain. Melalui pendidikan berpengalaman ini murid-murid dapat pula melakukan refleksi (perenungan-pengkajian) akan pengalamannya, sehingga kecakapan barunya terkembang, sikap barunya, dan teori-teori atau pola pikirnya (Kraft & Sakofs 1988).
Proses experiential learning itu dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Mengalami (experiencing).
Mengalami itu sendiri merupakan suatu proses. Dalam contoh murid “pemalu dan penakut” (yang “diajari”) untuk melakukan kegiatan menyeberang jalan untuk mencapai toko kelontong, bicara kepada penjaga toko menanyakan barang dan harganya, dan menghitung berapa uang kembalian yang harus diterima, semua kegiatan yang dilakukannya itu merupakan bagian dari pengalaman.
2. Menganalisis dan merespon (analyzing&responding).
Dengan contoh diatas, murid tersebut di atas harus menganalisis (mengkaji dan memikirkan) apa yang harus dilakukannya, apa yang harus ia katakan ketika penjaga toko menyebut barang dagangan tertentu atau bertanyakan sesuatu, apa yang harus dilakukannya jika uang yang dibawanya tidak cukup untuk membayar barng yang harus dibeli, itu semua merupakan bagian dari yang disebut menganalisis. Jangan lupa pula bahwa merespon (menanggapi), yaitu menanggapi pertanyaan-pertanyaan atau tawaran dari penjaga toko, misalnya, juga merupakan bagian penting dari “berpengalaman” itu.
3. Menerapkan (applying).
Menerapkan apa yang sudah dialami (diketahui dari pengamalammnya sendiri) ke dalam situasi atau keadaaan yang baru merupakan tahap berikut yang dilakukan murid. Setiap pengalaman yang pernah dialami murid (yang sukses) akan membuat anak punya rasa percaya diri dan memiliki keberanian untuk bertindak atau melakukan hal yang sama (jika sudah berhasil menyebrang jalan dengan selamat, tak akan takut lagi menyeberang jalan. Jika sudah bisa berbicara lancar dengan penjaga toko, tak akan takut lagi untuk datang ke toko dan berbelanja.
Apa saja kegiatan yang bisa memunculkan belajar melalui pengalaman itu? Antara lain: (1) karya wisata atau jalan-jalan, (2) melakukan simulasi, (3) bermain peran, (4) melakukan percobaan atau eksperimen, (5) melakukan observasi lapangan, (6) melakukan survai.
Ada beberapa prinsip yang dapat dijadikan pegangan guru untuk menggunakan experiential learning dalam menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar, yaitu:
1. Pilih kegiatan experiential learning yang paling sesuai dengan tujuan PBM (jalan-jalan, observasi lingkungan, melakukan percobaan, atau lainnya). Ingat banyak macam ragam aktivitas yang bisa memberikan pengalaman langsung kepada murid dalam berbagai bidang studi atau materi pelajaran. Mengalami sendiri itu bisa berupa: (1) melihat dengan mata kepala sendiri, (2) mendengar sendiri secara langsung, (3) merasakan, meraba sendiri secara langsung, (4) melakukan sendiri (learning by doing),mencoba-coba (bisa juga membuktikan sendiri bahwa minyak akan terpisah dari dan berada di atas air), melakukan simulasi, mempraktekkan, dan lai-lain. Inti dari “mengalami sendiri” itu adalah tidak hanya sekedar mendengar kata orang atau membaca dari buku, melainkan tahu dengan indera-inderanya sendiri.
2. Rancang kegiatan (proses) experiential learning itu dari yang sederhana bergerak ke yang rumit, dari yang mudah bergerak ke yang lebih sulit. Ingat: keberhasilan pertama merupakan penguat motivasi melakukan kegiatan berikutnya, dan sebaliknya, jika gagal pada pertama kali, akan membuat murid takut melakukan kegiatan berikutnya.
3. Susun skenario kegiatan “mengalami” sendiri itu dengan cermat dan rinci dengan memperhitungkan waktu dan sarana yang tersedia.
6. Developmentally Appropriate Practices (DAP)
Konsep yang sesuai dengan praktek tahapan perkembangan mengacu untuk menyediakan sebuah lingkungan dan menawarkan konten, materi, kegiatan, dan metodologi yang dikoordinasikan dengan anak yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan masing-masing anak sudah siap. Tiga dimensi kesesuaian harus dipertimbangkan: kesesuaian umur, kesesuaian individu, dan kesesuaian konteks budaya dan sosial anak.
Kesesuaian Umur.
Urutan perkembangan diprediksi pertumbuhan dan perubahan yang terjadi pada anak-anak selama sembilan tahun pertama kehidupan menurut penelitian pembangunan manusia. Perubahan ini terjadi pada semua bidang pembangunan: fisik, kognitif, sosial, dan emosional. Dimensi ini kadang-kadang disebut sebagai usia perkembangan atau fungsi anak.
Sering terjadi beberapa usia perkembangan anak-anak dalam suatu kelompok yang adalah usia kronologis yang sama karena tingkat pertumbuhan individu, pola pembangunan atau perbedaan individual lainnya. Sebagai contoh, berbagai kemungkinan di usia dua tahun dalam perkembangan di kelompok-anak usia lima tahun adalah normal. Juga pada usia ini, anak laki-laki sering enam bulan kurang matang dibandingkan anak perempuan. Hal ini juga normal untuk anak yang berfungsi pada beberapa tingkat perkembangan yang berbeda.
Kesesuaian individu
Setiap anak adalah orang yang unik dengan pola individu dan tingkat pertumbuhan. Bersama dengan kepribadian individu, gaya belajar, latar belakang keluarga, dan pengalaman masa lalu, perbedaan-perbedaan individu harus dicerminkan dalam hubungan orang dewasa-anak dan interaksi dalam kurikulum responsif. Belajar pada anak-anak merupakan hasil interaksi aktif yang terjadi antara anak dan lingkungan, bahan, ide-ide dan orang-orang di mana seluruhnya terdapat dalam kontak. Pengalaman harus sesuai dengan perkembangan kemampuan anak, sementara pada saat yang sama memberikan beberapa tantangan bagi pertumbuhan dan perluasan kepentingan.
Budaya dan kesesuaian konteks sosial
Anak-anak tidak tumbuh dalam kamar kecil yang terisolasi, melainkan, dalam keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Adalah penting bahwa orang dewasa yang bekerja dengan anak-anak memiliki pengetahuan tentang konteks sosial dan budaya di mana anak-anak hidup dalam rangka untuk memastikan bahwa pengalaman belajar bermakna, relevan, dan hormat untuk anak-anak yang berpartisipasi dan keluarga mereka (University of Kansas 2002).
DAP adalah salah satu dari sejumlah praktek yang terkait dengan pendidikan berbasis hasil dan pendidikan reformasi progresif gerakan lain. Beberapa kritikus berpendapat bahwa beberapa reformasi matematika dan bahasa utuh yang sepenuhnya mendukung kesesuaian dengan tahapan perkembangan praktek diyakini untuk memperkenalkan mahasiswa pada material dan konsep yang mungkin terlalu maju untuk anak-anak muda, atau di atas tingkat bacaan mereka. Pada sisi berlawanan, beberapa kritikus menyatakan bahwa pendekatan DAP menggunakan konten dan konsep yang jauh dibawah tingkat pendidikan tradisional. Pendidik dibanyak negara menerapkan pendekatan pembelajaran DAP untuk memenuhi standar yang ditetapkan oleh asosiasi profesional khusus, termasuk diarea seni bahasa, matematika, ilmu sosial, dan ilmu pengetahuan. Standar Pendidikan mengusulkan untuk mengajar siswa sekolah dasar membangun eksperimen mereka sendiri, sedangkan siswa sekolah tinggi tradisional dan bahkan mahasiswa yang biasanya diajarkan bagaimana melakukan eksperimen yang dirancang sebelumnya, tapi tidak untuk membangun eksperimen mereka sendiri. Dalam lingkungan DAP, melalui teknik pengajaran yang disengaja, serta dengan memanfaatkan momen mendidik, anak-anak terlibat dalam otentik, pengalaman belajar yang bermakna. Individualisasi menjadi komponen kunci dalam memastikan kebutuhan dan kepentingan masing-masing anak yang difokuskan pada lingkungan DAP. Tahapan perkembangan praktek yang sesuai didasarkan pada gagasan bahwa anak-anak belajar terbaik dari melakukan. Anak-anak belajar paling baik jika mereka secara aktif terlibat dalam lingkungan mereka dan membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman mereka daripada melalui pasif menerima informasi. Lingkungan belajar aktif mempromosikan tangan pada pengalaman belajar dan membiarkan anak-anak untuk berinteraksi dengan obyek dalam lingkungan mereka, serta rekan-rekan mereka dan guru [Anonim].
Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Manajemen Kelas
Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Namun, manajemen sekolah yang menjadi salah satu aspek terpenting sering di abaikan dalam kebijakakan yang diterapkan oleh pihak sekolah. Dalam sebuah artikel manajemen kelas (Wahab 2008) disebutkan bahwa terdapat beberapa kriteria kelas yang baik
1. Kelas yang dikelola dengan baik adalah “Self-Contained Classroom”.
Seperti yang telah disebutkan di atas, pengelolaan kelas yang baik adalah dengan cara “Self-contained Classroom”, yaitu kelas dengan “semua pengaturan” siswa dan guru dapat diperoleh dan tata letaknya amat bergantung pada berapa jumlah siswa yang terdapat dalam kelas dan karakteristik siswa tersebut. Salah satu contohnya adalah tata letak dan tinggi lemari tempat menyimpan peralatan para murid serta alat peraga dapat dengan mudah dijangkau oleh para siswa.
2. Kelas, Pencahayaan, dan Kebisingan.
Kondisi ideal kelas tempat siswa belajar harus memiliki kondisi fisik yang baik, tidak hanya kondisi fisik dari bangunan saja. Tetapi juga letak dan posisi bangunan kelas terhadap kelas lainnya, pencahayaan dari luar maupun dari dalam, serta pengelolaan kelas menyangkut kebisingan suara.
3. Empat kunci Pengaturan Ruang yang Baik
Emmeretall (1984 dalam Wahab 2008 ) mengatakan terdapat empat kunci pengaturan yang dapat berfungsi sebagai pedoman disaat pengambilan keputusan dalam pengaturan ruang kelas, yaitu:
a. Hindari kemacetan bagian-bagian ruangan yang dianggap sibuk. Bagian – bagian ruangan yang sering digunakan sebagai ruangan melakukan pekerjaan kelompok dan tempat penempatan rak-rak penyimpanan tidak dijadikan menjadi satu ruangan atau dijauhkan antar lokasi.
b. Memastikan semua murid dapat terlihat dengan jelas oleh para guru.
c. Guru menyiapkan materi yang akan di sampaikan serta beberapa materi cadangan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar mengefesiekan dalam penggunaan waktuagar cepat selesai dan tetap besih.
d. Penataan tempat duduk harus diatur sediemikian rupa sehingga hasil persentasi dan ketika guru mengajar dapat terlihat jelas oleh murid.
Pada sebuah artikel di salah satu koran nasional online (Mahani 2010) juga terdapat beberapa keterampilan yang berhubungan dengan menciptakan kondisi belajar yang kondusif, yaitu
1. Menunjukkan sikap tanggap. Maksudnya adalah menggambarkan tingkah laku guru yang tampak pada siswa, bahwa guru sadar dan tanggap terhadap perhatian keterlibatan, masalah dan ketidak acuan mereka. Kesan ini terdiri dari: memandang secara sesame, memberikan pernytaan, gera mendekati, dan memberikan reaksi terhadap gangguan dan ketakacuan siswa.
2. Membagi perhatian. Pengelolaan kelas yang efektif dapat terjadi apabila guru membagi perhatian kepada beberapa kegiata yang berlangsug dalam waktu yang sama. Hal ini dapat dilakukan dengan cara seperti: visual (memonitor kegiatan, member komentar, atau member reaksi kepada siswa) dan verbal (memberikan komentar atas aktivitas siswa).
3. Memusatkan perhatian. Mempertahankan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar dengan cara: menyiagakan siwa dengan menciptakan suasana semenarik mungkin menuntut tanggung jawab siswa dengan menjalin komunikasi yang jelas antara guru dengan siswa.
4. Memberikan petunjuk yang jelas. Petunjuk yang diberikan harus bersifat langsung dengan bahasa yang jelas dan tidak membingungkan siswa serta denga tuntutan yang wajar dan dapat dipenuhi oleh siswa (memberi penguatan).

Komunikasi dalam pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu proses komunikasi. Komunikasi adalah proses pengiriman informasi dari satu pihak kepada pihak lain untuk tujuan tertentu. Komunikasi dikatakan efektif apabila komunikasi yang terjadi menimbulkan arus informasi dua arah, yaitu dengan munculnya feedback dari pihak penerima pesan.
Kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh efektif tidaknya komunikasi yang terjadi di dalamnya. Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidik kepada peserta didik, dimana peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Pengajar adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif dalam pembelajaran, sehingga dosen sebagai pengajar dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik agar menghasilkan proses pembelajaran yang efektif (Arismunandar dan Wiranto 2003).
Sardiman A. M (2005) dalam bukunya yang berjudul “Interaksi dan Motivasi dalam Belajar Mengajar” menyebut istilah pembelajaran dengan interaksi edukatif. Menurut beliau, yang dianggap interaksi edukatif adalah interaksi yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan untuk mendidik, dalam rangka mengantar peserta didik ke arah kedewasaannya. Pembelajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing para peserta didik di dalam kehidupannya, yakni membimbing mengembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus dijalani. Proses edukatif memiliki ciri-ciri :
a. ada tujuan yang ingin dicapai
b. ada pesan yang akan ditransfer
c. ada pelajar
d. ada guru
e. ada metode
f. ada situasi ada penilaian.
Terdapat beberapa faktor yang secara langsung berpengaruh terhadap proses pembelajaran, yaitu pengajar, mahasiswa, sumber belajar, alat belajar, dan kurikulum (Once Kurniawan : 2005). Association for Educational Communication and Technology (AECT) menegaskan bahwa pembelajaran (instructional) merupakan bagian dari pendidikan. Pembelajaran merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdiri dari komponen-komponen sistem instruksional, yaitu komponen pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar atau lingkungan.

Konsep Pendidikan Holistik
Berdasarkan kesepakatan Education 2000: A Holistik Perspektive (Bredekamp 1987 dalam Megawangi et al 2008) sistem pendidikan dengan konsep pendidikan holistik memiliki ciri-ciri:
 mengajarkan kepada para siswa bahwa setiap aspek dalam kehidupan saling terkait sehingga mereka dapat menjalani kehidupan dengan produktif, damai, dan secara berkelanjutan karena setiap tindakan individu akan berdampak kepada lingkungannya.
 Mendidik seluruh aspek dimensi manusia
 Menghargai bahwa setiap manusia mempunyai kelebihan masing-masing, sehingga tidak bisa disamakan
 Mendidik untuk berfikir secara holistik, yang mencakup intuisi, konteks, kreativitas, dan aspek fisik
 Memberikan lingkungan pembelajaran yang kondusif karena pembelajaran adalah sebuah proses yang aktif, termotivasi dari dalam, mendukung, dan menggairahkan spirit manusia
 Menggunakan kurikulum yang holistik (interdisiplinary) yang mengintegrasikan komunitas dengan perspektif global
Salah satu prinsip pendidikan holistik adalah adanya partisipasi atau keterlibatan aktif siswa, karena keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar adalah kunci dari proses belajar yang efektif (Megawangi et al 2008).

Daftar pustaka
[Anonim]. ….. Developmentally appropriate practices with young children. Child share:2-17. http://123child.com/website-share/D.A.P..pdf [17 April 2011].
Arismunandar, Wiranto. 2003. Komunikasi dalam Pendidikan. Bandung: Departemen Teknik Mesin ITB.
Mahani FA. 2010. Mengelola kelas. http://edukasi.kompasiana.com/2010/02/01/mengelola-kelas/
.[17 April 2011]
Makmun A S. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Miarso, Yusufhadi. 1986. Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali.
Miller K. 2009. Collaborative and cooperative learning for better motivation and retention. http://www.educacionparatodos.com/cobimu/karimiller.pdf [17 April 2011]
Megawangi R, Latifah M, Dina W F.2008. Pendidikan Holistik.Bogor: Indonesia Heritage Foundation.

[PEC] Payton Educational Consulting. 2009. Collaborative projects. http://www.tammypayton.net/courses/collab/what.shtml [17 November 2011].
Pratikno R. 1987. Berbagai Aspek Ilmu Komunikasi. Bandung: Remadja Karya.
Salim A. 2010. Inquiry Based Learning: metode pembelajaran berbasis siswa. http://wajibbelajar.com/2010/04/inquiry-based-learning/ [4 April 2011].
Sardiman A M. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press.
Senjaya W. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
University of Kansas. 2002. Developmentally appropriate practices. Circle proyek inklusi. http://circleofinclusion.org/english/approaches/dap.html [17 April 2011]
Wahab AA. 2008. Manajemen kelas. http://www.ditjenpmptk.net/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=177. [17 April 2011]

2 comments on “Konsep pembelajaran

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: