Dasar Filosofis Dan Teoritis Pendidikan Holistic Dalam Deimensi Emosional

Published June 30, 2011 by dita8

PEMBAHASAN 1. Teori Beberapa Tokoh Joanna Macy Eco-filsuf Joanna Macy, adalah seorang sarjana agama Buddha, teori sistem umum, dan Deep Ekologi. Beliau dihormati dalam gerakan untuk perdamaian, keadilan, dan ekologi. Selain itu Joanna Macy telah aktif sebagai guru, sarjana, dan aktivis hak-hak warga sipil dan gerakan perdamaian sejak 1960. Karya-karyanya membahas masalah-masalah psikologis dan spiritual zaman nuklir, budidaya kesadaran ekologis, dan resonansi berbuah antara pikiran Buddha dan ilmu pengetahuan kontemporer. Joanna Macy termasuk ke dalam dimensi emosional karena dalam menciptakan karya-karyanya, ia selalu menekankan pada pendekatan dimensi emosional seseorang dan psikologis. Beliau mengatakan bahwa permasalahan lingkungan ekologi sekarang ini, dipengaruhi oleh adanya emosi negatif dalam diri seseorang. Dimensi emosional dan lingkungan tersebut banyak dieksplorasi dalam buku-bukunya. Karyanya membantu seseirang mengubah putus asa dan apatis dalam menghadapi krisis sosial dan ekologi luar biasa, menjadi konstruktif dan tindakan kolaboratif. Hal tersebut membawa cara baru melihat dunia, sebagai tubuh hidup yang lebih besar dari manusia dan membebaskan manusia dari asumsi dan sikap yang mengancam kelangsungan kehidupan di Bumi. Selain itu dalam tulisannya Working Through Environmental Despair, joanna menjelaskan bagaimana setiap emosional yang dirasakan seseorang akan mempengaruhi segala tindakan dan keputusan manusia, hal tersebut tentu akan mempengaruhi lingkungan, oleh karena itu hingga sekarang krisis ekologi tetap terjadi. Joanna Macy memiliki pandangan holistik yang luas dari masalah kemanusiaan yang dihadapi sampai cara yang sangat baik dan inspiratif untuk melihat ‘ketidakpastian’ lingkungan. Beliau termasuk ke dalam tokoh level planetary, karena ia pencetus teori Deep Ekology, selain itu kegiatan Joanna Macy selain menulis 9 buku, beliau telah membawa banyak pengalaman dan kebijaksanaan untuk lingkungan, menyadarkan individu dan masyarakat terhadap lingkungan. Selain sebagai pendidik publik dan aktivis lingkungan Joanna Macy telah mengembangkan pendekatan menarik praktik pendidikan yang membantu individu dan masyarakat untuk memperdalam kesadaran sebagai warga negara global dan lingkungan melalui The Great Turning, dimana beliau menjelaskan bagaimana manusia menyebabkan kerusakan lingkungan dan bagaimana cara untuk mengatasi hal tersebut. Sebagai seorang sarjana teori sistem umum, ekologi, dan spiritualitas, beliau membahas hal-hal yang melemahkan lingkungan dan memberikan gambaran umum tentang kerangka teori perubahan pribadi, sosial, dan metodologi untuk aplikasi dalam pendidikan lingkungan. Krisis ekologi yang dialami saat ini semua berakar pada perilaku manusia, seperti pola produksi dan konsumsi yang sangat eksesif dan tidak ekologis, semua teknologi yang ditemukan oleh manusia cenderung untuk merusak lingkungan baik secara langsung maupun tidak. Hal tersebut sesuai dengan level planetary, dimana dalam bidang pendidikan lingkungan, mendidik untuk berpikir secara global dan bertindak secara lokal dalam masalah lingkungan hidup dan global. Dalai Lama His Holiness Dalai Lama ke-14, Tenzin Gyatso, adalah kepala negara dan pemimpin spiritual Tibet. Ia sering menyatakan bahwa hidupnya dipandu oleh tiga komitmen utama: nilai-nilai kemanusiaan dasar untuk kepentingan kebahagiaan manusia, pembinaan kerukunan antar-agama dan kesejahteraan rakyat Tibet (fokus pada kelangsungan hidup: identitas, budaya dan agama). Pada usia dua tahun, yang bernama Lhamo Dhondup pada waktu itu diakui sebagai reinkarnasi dari Dalai Lama ke-13, Thubten Gyatso. Para Dalai Lama yang diyakini sebagai manifestasi dari Avalokiteshvara atau Chenrezig, Bodhisattva dari Kasih dan santo pelindung Tibet. Bodhisattva adalah makhluk yang telah memilih untuk mengambil kelahiran kembali untuk melayani kemanusiaan. Dalai Lama termasuk ke dalam dimensi emosional karena dalam salah satu tulisannya Ecology and the Human Heart, bahwa dalam ajaran budha terdapat kesalingtergantungan antara alam dan makhluk hidup di dalamnya. Dalai lama mempercayai bahwa sifat manusia adalah lembut, karena sifat dasar itulah dapat diciptakan hubungan yang damai dengan sesama manusia. Dalai lama memberikan contoh, ketika sesorang berfikir dengan tenag dan jelas, masalah apapun dapat diselesaikan, namun sebaliknya ketika seseorang dalam kehilangan kendali karena kebencian, keegoisan, kecemburuan, dan kemarahan, tindakan kita tidak akan dapat dikendalikan, yang akan terjadi adalah permusuhan. Selain itu menurut beliau manusia memiliki rasa cinta dan kasih sayang, rasa yang positif itulah yang menjadi dasar untuk menciptakan perdamaian dunia. Hal tersebut tersirat bahwa, emosi yang positif tentu akan menciptakan kedamaian, manusia dapat saling menyanyangi, menciptakan kebahagiaan, dan kesenangan. Dalai Lama termasuk dalam tokoh level cosmic karena dalam salah satu tulisannya Spirituality and Nature, bahwa manusia memiliki rasa kasih sayang, kecerdasan, dan kebijaksanaan, akan tetapi tindakan yang manusia lakukan tidak berdasarkan atas kasih sayang, kecerdasan, dan kebijaksanaannya. Oleh hal tersebutlah Dalai Lama memiliki pandangan bahwa agama sangatlah istimewa, karena jika manusia memiliki agama dan dapat menjalankan agamanya setulus hati dan dengan benar, manusia dapat mengendalikan segala tindakannya. Menurut dalai lama inti dari agama adalah hati yang baik, beliau menyebut cinta dan kasih sayang adalah sebuah agama universal. Dalam seminar Preservation of Religious Harmony, Co¬existence and Universal Peace yang diselenggarakan oleh International Association for Religious Freedom (IARF), Dalai Lama mengatakan dalam abad kedua puluh satu, kualitas penelitian di dua dunia batin dan fisik telah mencapai tingkat yang cukup tinggi, berkat kemajuan teknologi dan kecerdasan manusia. Namun, dunia tetap menghadapi banyak masalah, yang sebagian besar adalah buatan manusia. Akar penyebab masalah buatan manusia adalah ketidakmampuan manusia untuk mengendalikan pikiran mereka. Sebagai seorang praktisi agama, Dalai Lama mengakui bahwa agama-agama yang berbeda di dunia telah memberikan banyak solusi tentang bagaimana untuk mengendalikan pikiran manusia. Akan tetapi untuk mengatasi permasalahan yang ada, tidak hanya karena adanya agama yang beragam, tetapi setiap indinidu dari latar belakang agama yang berbeda, harus mampu hidup harmonis dan toleransi. Daniel Golman Jay Daniel Goleman lahir di Stockton, California pada 7 Maret 1946) adalah seorang penulis, psikolog, dan jurnalis sains. Selama dua belas tahun, dia menulis untuk The New York Times, yang mengkhususkan diri dalam ilmu psikologi dan otak. Dia adalah penulis lebih dari 10 buku tentang psikologi, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kepemimpinan. Dia adalah wakil ketua Konsorsium untuk Penelitian Emotional Intelligence dalam sebuah organisasi yang berbasis di Graduate School of Applied and Professional Psychology di Rutgers University, yang merekomendasikan praktek-praktek terbaik untuk mengembangkan kemampuan kecerdasan emosional, dan mempromosikan penelitian yang ketat pada kontribusi emotional intelligence untuk efektivitas kerja. Selain itu, Goleman adalah co-founder di The Collaborative for Academic, Pembelajaran sosial dan Emosional Anak di Yale University Child Studies Center (sekarang University of Illinois at Chicago) yang memiliki misi untuk membantu sekolah-sekolah memperkenalkan kursus keterampilan emosional. Goleman juga merupakan anggota dewan direktur Mind and Life Institute dan, yang meningkatkan dialog antara ilmuwan dan kontemplatif. Bukunya, “Destructive Emotions” berisi pilihan diedit dari dialog dari The 8th Mind & Life Conference (Dharamsala, India dari 20-24 Maret, 2000) antara Dalai Lama dan ahli saraf. Hal yang sama dengan bukunya Penyembuhan Emosi yang merupakan pilihan diedit dari dialog dari The 3rd Mind & Life Konferensi (Dharamsala, India, November 5-9, 1990). Dalam konferensi kedua Goleman telah menjadi Koordinator Ilmiah. Goleman menulis buku internasional terlaris, Emotional Intelligence (1995, Bantam Books), yang menghabiskan lebih dari tahun dan satu-setengah dalam daftar New York Times Best Seller. Goleman mengembangkan argumen bahwa keterampilan non-kognitif dapat peduli sebanyak IQ untuk sukses di tempat kerja “Working with Emotional Intelligence” (1998, Bantam Books) dan untuk efektivitas kepemimpinan dalam “Primal Leadership” (2001, Harvard Business School Press). Daniel Goleman (Emotional Intelligence) menyebutkan bahwa kecerdasan emosi jauh lebih berperan daripada IQ atau keahlian dalam menentukan siapa yang akan jadi bintang dalam suatu pekerjaan. Daniel Goleman (1999), salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni kecerdasan emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotient (EQ). Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Daniel Goleman yang dikenal dengan istilah Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence). Menurut Daniel Goleman, EQ sama ampuhnya dengan IQ, dan bahkan lebih. Terlebih dengan adanya hasil riset terbaru yang menyatakan bahwa kecerdasan kognitif (IQ) bukanlah ukuran kecerdasan (Intelligence) yang sebenarnya, ternyata emosilah parameter yang paling menentukan dalam kehidupan manusia. Menurut Daniel Goleman (IQ) hanya mengembangkan 20 persen terhadap kemungkinan kesuksesan hidup, sementara 80 persen lainnya diisi oleh kekuatan-kekuatan lain. Seseorang yang belum memiliki kecerdasan emosi biasanya akan mudah mengalami gangguan kejiwaan, atau paling tidak kurang dapat mengendalikan emosinya, dan mudah larut dalam kesedihan apabila mengalami kegagalan. Apabila muncul perilaku-perilaku negatif yang disebabkan oleh kurangnya kecerdasan emosi, maka tidak mengherankan bila merugikan bagi orang lain yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu, kecerdasan emosi sangat diperlukan bagi setiap orang, karena dengan kecerdasan emosi orang akan memiliki rasa introspeksi yang tinggi, sehingga manusia tidak akan mudah marah, egois, tidak mudah putus asa, dan selalu memiliki rasa lapang dada dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Dari hasil penelitanya Daniel Goleman menemukan situasi yang disebut dengan “when smart is damb”, ketika orang cerdas jadi bodoh . Daniel Goleman menemukan bahwa orang Amerika yang memiliki kecerdasan atau IQ diatas 125 umumnya bekerja kepada orang yang memiliki kecerdasan rata-rata 100. artinya, orang yang cerdas umumnya bekerja kepada orang yang lebih bodoh darinya. Jarang sekali orang yang cerdas secara intelektual sukses dalam kehidupan. Melainkan orang-orang yang biasalah yang sukses dalam kehidupanya karena kecerdasan emosinya. Daniel Goleman mengemukakan bahwa kerugian pribadi akibat rendahnya kecerdasan emosional dapat berkisar mulai dari kesulitan perkawinan, pendidikan anak, buruknya kesehatan jasmani, hambatan perkembangan intelektual, hingga ketidaksuksesan karir. Daniel Goleman mencoba melihat aspek afeksi manusia khususnya pada perasaan atau emosi manusia, dan konsep-konsep yang ditawarkan Daniel Goleman akan mengantarkan manusia untuk memperoleh mental yang sehat (kesehatan mental) karena perasaan dapat mempengaruhi kesehatan mental, jadi perasaan yang ditempatkan pada tempatnya akan memperoleh mental yang sehat. konsep Zakiahpun merupakan konsep yang cocok diterapkan pada zaman sekarang ini. Berdasarkan konsep yang dikembangkan mengenai emotional intelligence maka dapat disimpulkan bahwa konsep tersebut tergolong ke dalam dimensi emotional. Emotional yang sangat dibuthkan dalam kehidupan sosial sehingga konsep tersebut tergolong ke dalam level sosial. Abraham Maslow Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, Newyork, pada 1908. Ia memperoleh gelar bachelor pada 1930, master pada 1931, dan PhD pada 1934. Maslow kemudian memperdalam riset dan studinya di Universitas Columbia dan masih mendalami subjek yang sama. Di sana ia bertemu dengan mentornya yang lain yaitu Alfred Adler, salah satu kolega awal dari Sigmund Freud. Pada tahun 1937-1951, Maslow memperdalam ilmunya di Brooklyn College. Di New York, ia bertemu dengan dua mentor lainnya yaitu Ruth Benedict seorang antropologis, dan Max Wertheimer seorang Gestalt psikolog, yang ia kagumi secara profesional maupun personal. Kedua orang inilah yang kemudian menjadi perhatian Maslow dalam mendalami perilaku manusia, kesehatan mental, dan potensi manusia. Ia menulis dalam subjek-subjek ini dengan mendalam. Tulisannya banyak meminjam dari gagasan-gagasan psikologi, namun dengan pengembangan yang signifikan. Penambahan tersebut khususnya mencakup hirarki kebutuhan, berbagai macam kebutuhan, aktualisasi diri seseorang, dan puncak dari pengalaman. Maslow menjadi pelopor aliran humanistik psikology yang terbentuk pada sekitar tahun 1950 hingga 1960-an. Pada masa ini, ia dikenal sebagai “kekuatan ke tiga” di samping teori Freud dan behaviorisme. Maslow menjadi profesor di Universitas Brandeis dari 1951 hingga 1969, dan menjadi resident fellow untuk Laughlin Institute of California. Teori Humanistik dan Aktualisasi Diri Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Adapun ciri-ciri aliran Humanistik ini adalah sebagai berikut: • Mementingkan manusia secara pribadi • Mementingkan kebulatan pribadi • Mementingkan peranan kognitif dan afektif • Mementingkan persepsi subjektif yang dimiliki tiap individu • Mementingkan kemampuan menentukan bentuk tingkah laku sendiri • Mengutamakan “insight”, yaitu pengamatan atau pemahaman terhadap hubungan antara bagian-bagian di dalam situasi permasalahan (dalam situasi problematik). Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Maslow (1968) berpendapat bahwa dalam diri manusia terdapat dua hal, yaitu: 1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang 2. Kekuatan untuk menolak atau melawan perkembangan itu. Psikolog humanis percaya bahwa setiap orang memiliki keinginan yang kuat untuk merealisasikan potensi potensi dalam dirinya, untuk mencapai tingkatan aktualisasi diri. Untuk membuktikan bahwa manusia tidak hanya bereaksi terhadap situasi yang terjadi di sekelilingnya, tapi untuk mencapai sesuatu yang lebih, Maslow mempelajari seseorang dengan keadaan mental yang sehat, dibanding mempelajari seseorang dengan masalah kesehatan mental. Hal ini menggambarkan bahwa manusia baru dapat mengalami “puncak pengalamannya” saat manusia tersebut selaras dengan dirinya maupun sekitarnya. Dalam pandangan Maslow, manusia yang mengaktualisasikan dirinya, dapat memiliki banyak puncak dari pengalaman dibanding manusia yang kurang mengaktualisasi dirinya. Maslow menggunakan piramida sebagai peraga untuk memvisualisasi gagasannya mengenai teori hirarki kebutuhan. Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Kebutuhan fisiologis/ dasar 2. Kebutuhan akan rasa aman dan tentram 3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi 4. Kebutuhan untuk dihargai 5. Kebutuhan untuk aktualisasi diri Penjelasan mengenai konsep motivasi manusia menurut Abraham Maslow mengacu pada lima kebutuhan pokok yang di susun secara hirarkis. Tata lima tingkatan motivasi secara hierarkis ini adalah sebagai berikut : 1. Kebutuhan yang bersifat fisiologis (lahiriyah). Manifestasi kebutuhan ini terlihat dalam tiga hal pokok, sandang, pangan, dan papan. Bagi karyawan, kebutuhan akan gaji, uang lembur, perangsang, hadiah-hadia dan fasilitas lainnya seperti rumah kendaraan dan lain-lain. Menjadi motif dasar dari seseorang mau bekerja, menjadi efektif dan dapat memberikan produktivitas yang tinggi bagi organisasi. 2. Kebutuhan keamanan dan keselamatan kerja (Safety Needs) Kebutuhan ini mengarah kepada rasa kemanan, ketentraman dan jaminan seseorang dalam kedudukannya, jabatannya, wewenangnya dan tanggung jawabnya sebagai karyawan. Dia dapat bekerja dengan antusias dan penuh produktivitas bila dirasakan adanya jaminan formal atas kedudukan dan wewenangnya. 3. Kebutuhan sosial (Social Needs) Kebutuhan akan kasih sayang dan bersahabat (kerjasama) dalam kelompok kerja atau antar kolompok. Kebutuhan akan diikut sertakan, meningkatkan relasi dengan pihak-pihak yang dierlukan dan tmbuhnya rasa kebersamaan termasuk adanya sense of belonging dalam organisasi. 4. Kebutuhan akan prestasi (Esteem Needs) Kebutuhan akan kedudukan dan promosi dibidang kepegawaian. Kebutuhan akan simbul-simbul dalam statusnya seseorang serta prestasi yang ditampilkannnya. 5. Kebutuhan mempertinggi kapasitas kerja (Self actualization) Setiap orang ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan (kebolehannya) dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tungkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi. Pada perkembangannya, teori ini juga mendapatkan kritik. Hal ini dikarenakan adanya sebuah loncatan pada piramida kebutuhan Maslow yang paling tinggi, yaitu kebutuhan mencapai aktualisasi diri. Kebutuhan itu sama sekali berbeda dengan keempat kebutuhan lainnya, yang secara logika mudah dimengerti. Seakan-akan ada missing link antara piramida ke-4 dengan puncak piramida, seolah-olah terjadi lompatan logika. Berdasarkan konsep yang dikembangkan mengenai hirarkhi kebutuhan yang tergolong pada aliran psikologi humanistik maka dapat disimpulkan bahwa konsep tersebut tergolong ke dalam dimensi emotional. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi dirinya dan untuk itu dibutuhkan kematangan emosi, dimana dalam mewujukannya membutuhkan bantuan orang lain. Dan pemenuhan kebutuhan tersebut terjadi jika seorang individu berada di dalam sebuah komunitas. Hal tersebut diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu, konsep tersebut tergolong ke dalam level comunity. Carl Roger Carl Roger memiliki nama lengkap Carl Ransom Roger lahir di Oak Park, Illionis, pada tanggal 8 Januari 1902 dan meninggal pada tanggal 4 Februari 1987. Anak keempat dari enam bersaudara ini lahir dari keluarga yang memiliki hubungan yang sangat kuat, ketat, tidak ada kompromi (gaya pengasuhan otoriter), sangat religious, dan menanamkan sikap kerja keras.. Pada awalnya beliau belajar mengenai teologi dan menjadi seorang pendeta di gereja kecil di Wermont. Namun, seiring berjalannya waktu ia berpaling ke psikologi klinis dan pendidikan dengan belajar di Teacher’s College dari Universitas Colombia (Smith 2004). Teori Carl roger terkenal dengan nama Self Theory. Roger mengatakan bahwa kepribadian merupakan otak dari seseorang. Hal ini menunjukkan siapa dan apa yang akan dilakukan oleh orang tersebut. Roger mempercayai bahwa solusi umtuk memodifikasi kesenangan dan semangat adalah dengan mempercayai seseorang untuk melakukan diantara konsep diri seseoranga dan pengetahuan orang tersebut. Roger mengerti bahwa kita semua mengembangakan kebutuhan akan self esteem.sehingga terkadang kita sering melakukan hal-hal yang menentang atau pemberontakan hanya ketika kita ingin meningkatkan potensi yang kita miliki. Teori Membangun Kepribadian (Theory of Personality Development) pada terapi Roger merupkan ringkasan dari teori personality development dan pengetahuan atas client-centered theory, semenjak dasar dari terapi di desain untuk klien (Anonim 2010b). Kekuatan dari pendekatan Roger terletak pada bagian focus atas relationship. Seperti yang pernah ia tulis dalam pendidikan “Fasilitas dari pembelajaran yang signifikan terletak pada sikap tertentu yang disampaikan dalam hubungan antara fasilitator dan pembelajar ”. Di salah satu artikel tertulis bahwa ide pokok dari teori – teori Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah – masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak – kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis (Manugkarjo 2005). Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positip tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan. Lima sifat khas orang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being): 1. Keterbukaan pada pengalaman Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positip maupun negatip. 2. Kehidupan Eksistensial Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya. 3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik. 4. Perasaan Bebas Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan – paksaan atau rintangan – rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya. 5. Kreativitas Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri – ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya. Berdasarkan penjelasan dari teori carl roger yaitu teori kepribadian dan konsep aktualisasi diri dari kemampuan individu maka dapat di ambil kesimpulan bahwa teori carl roger termasuk kedalam level personal. Hal ini dikarenakan dari teori dan konsep yang disampaikan menekankan agar individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah – masalah psikisnya. Serta konsep dan teori tersebut termasuk kedalam dimensi emotional karena adanya fokus terhadap hubungan antara dua orang serta adanya pengaruh dari penghargaan positif yang diberikan kepada perkembangan kepribadian seseorang. 2. Dimensi Emosional Dalam Pendidikan Berdasarkan beberapa teori dan konsep yang telah dijelaskan sebelumnya dari beberapa tokoh, maka teori dan konsep tersebut dapat dikelompokkan kedalam dimensi emotional. Hal ini dikarenakan dari seluruh teori yang ada ada pengaruh emotional di dalamnya. Seperti pada konsep dan teori yang di jelaskan oleh Carl Roger dimana dalam membentuk kepribadian seseorang membutuhkan pengaruh peghargaan positif. Dalam pendidikan menurut carl roger dibutuhkan adanya hubungan yang baik antara pengajar dan yang pembelajar, dimana adanya pengaruh emosi didalamnya. Sementara itu menurut Joanna Macy termasuk, dalam menciptakan karya, ia selalu menekankan pada pendekatan dimensi emosional seseorang dan psikologis. Beliau mengatakan bahwa permasalahan lingkungan ekologi sekarang ini, dipengaruhi oleh adanya emosi negatif dalam diri seseorang. Seperti Carl Roger, konsep yang disamapaikan Dalai lama juga termasuk kedalam demensi emotional, karena menurut Dalai Lama adanya kesalingtergantungan antara alam dan makhluk hidup di dalamnya. Dimana ada keterlibatan emosi didalamnya, baik emosi positif maupun emosi negatif. Berbedanya halnya dengan Daniel Golmen, teori yang disampaikannya adalah mengenai Emotional Intelligetion. Daniel Goleman mengemukakan bahwa kerugian pribadi akibat rendahnya kecerdasan emosional dapat berkisar mulai dari kesulitan perkawinan, pendidikan anak, buruknya kesehatan jasmani, hambatan perkembangan intelektual, hingga ketidaksuksesan karir. DAFTAR PUSTAKA Anonim._. A brief biography. http://www.dalailama.com/biography/a-brief-biography Anonim._. Abraham maslow. http://id.wikipedia.org/wiki/Abraham_Maslow Anonim._. A human approach to peace. http://www.dalailama.com/messages/world-peace/a-human-approach-to-peace Anonim._. Daniel goleman. http://www.scribd.com/doc/36344397/Daniel-Goleman Anonim._. Ecology and human heart. http://www.dalailama.com/messages/environment/ecology-and-the-human-heart Anonim._. Religious harmony. http://www.dalailama.com/messages/religious-harmony Anonim. 2010a. Teori abrahan maslow. http://tok0blog.blogspot.com/2010/10/teori-abraham-maslow.html Anonim. 2010b. Carl roger’s theory. http://www.angelfire.com/psy/bebechic821/theory.html [23 April 2011] Anonim._. Daniel goleman. http://en.wikipedia.org/wiki/Daniel_Goleman Macy J. 2009. Joanna Macy and Her Work. http://joannamacy.net/aboutjoannamacy.html [30 April 2011] Manungkarjo O K. 2005. Carl rogers : psikolog aliran humanisme. http://blog.kenz.or.id/2005/05/02/carl-rogers-psikolog-aliran-humanisme.html [1 Mei 2011] Megawangi et al. 2005. Pendidikan Holistik. Cimanggis: Indonesia Heritage Foundation Nava RG. 2000. PowerPoint Presentation at the 8th International Conference on Holistic Education. Guadalajara, Mexico http://www.ramongallegos.com/englishversions.htm [30 April 2011] Okvina Nur Alvita. 2009. Perspektif Holistik Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia. http://okvina.wordpress.com/2009/02/18/perspektif-holistik-peningkatan-kualitas-sumberdaya-manusia/ [30 April 2011] Smith M K. 2004. Carl roger, core condition, and education. http://www.infed.org/thinkers/et-rogers.htm [21 April 2011]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: