Analisis permasalahan orang tua – anak dalam jurnal “Area konflik remaja awal dengan orang tua: studi kuantitatif pada keluarga di Surakarta”

Published November 26, 2011 by dita8

Konflik

Berdasarkan pada jurnal penelitian yang berjudul “Area konflik remaja awal dengan orang tua: studi kuantitatif pada keluarga di Surakarta” yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan 469 responden, dan pengambilan data melalui Focus Group interview serta pembagian kuesioner, dan menggunakan analisis kualitatif tematik didapatkan hasil beberapa area konflik yang biasa dialami remaja dengan orang tua, antara lain.

Tabel 1 Analisis konflik antara orang tua dengan anak

Sumber konflik

Pesentase (%)

Prestasi belajar

83.80

Bermain

59.28

Pemanfaatan teknologi informasi

53.30

Membantu tugas rumah

52.67

Keterlambatan pulang ke rumah

47.55

Model pakaian

39.66

Model rambut

36.89

Perilaku pacaran

34.75

Pemilihan teman

30.70

 

Menurut Rice dan Dolgin (2008) konflik antara remaja dengan orang tua terjadi dalam satu atau lebih dari lima area konflik yang umum terjadi, yakni berkaitan dengan kebiasaan dan kehidupan sosial, tanggung jawab, sekolah, hubungan dengan keluarga, dan konvensi sosial. Akan tetapi dalam penelitian ini hanya ditemukan tiga area yaitu kebiasaan dan kehidupan sosial, tanggung jawab, dan sekolah.

  1. Kebiasaan dan kehidupan sosial

Konflik yang termasuk ke dalam area ini antara lain bermain, keterlambatan pulang ke rumah, model pakaian, perilaku pacaran, pemilihan model rambut, pemilihan teman. Bermain dalam penelitian ini menempati urutan kedua yang menjadi sumber konflik dengan orang tua. Bermain dan terlambat pulang ke rumah sebenarnya merupakan keterampilan pengelolaan waktu. Ini berati remaja dianggap belum mampu menggunakan waktu luangnya dengan efektif dan efisien. Orang tua beranggapan bahwa waktu yang tidak digunakan untuk bermain akan mengganggu prestasi belajar. Oleh karena itu, orang tua menyampaikan pesan agar remaja mengurangi waktu bermain, meminta ijin jika akan pergi, pulang ke rumah terlebih dahulu usai sekolah, dan melarang bermain hingga malam.

Model rambut dan pakaian merupakan aspek yang menonjol dari budaya remaja. Melalui penampilan ini remaja menemukan dan mengekspresikan identitas mereka. Pada jurnal ditemukan bahwa remaja cenderung mengadopsi dari cara berpakaian dari teman atau trend saat itu. Model rambut seperti laki-laki dan rambut yang dicat juga menimbulkan perselisihan dengan orang tua. Adapun pada remaja laki-laki, model rambut, dan pakaian yang menjadi sumber perselisihan dengan orang misalnya berpakaian ala punk, asesories besar-besar, mengenakan tindik di telinga dan sejenisnya. Penampilan remaja seperti ini oleh orang tua, sering kali dianggap kurang pantas dan kurang sopan menurut nilai nilai kesopanan budaya timur.

Perkembangan remaja yang menginginkan hubungan yang dekat dan saling memperhatikan, dapat menggambarkan bahwa remaja memiliki kebutuhan pertemanan yang baik dengan sesama jenis maupu lawan jenis. Dalam penelitian ini remaja menempatkan teman dalam urutan pertama untuk berbagi permasalahan, diikuti dengan ibu kemudian ayahnya. Remaja menganggap teman lebih memahami mereka. Hanya saja sering kali teman yang dianggap cocok oleh remaja kurang disukai orang tua. Karakteristik teman yang tidak disukai tersebut misalnya berperilaku tidak sopan, berbicara keras, mabuk-mabukan, sering membolos, dan sejenisnya.

Sumber konflik antara remaja dan orang tua juga di sebabkan oleh banyak remaja yang mulai berpacaran. Pacaran dianggap sebagai pemicu konflik karena dipandang oleh orang tua dapat mengganggu konsentrasi remaja dalam belajar yang selanjutnya berdampak pada penurunan prestasi belajar. Aktivitas yang dilakukan remaja ketika berpacaran adalah berjalan-jalan, berbincang-bincang, bergandengan tangan, bahkan ada yang berciuman. Dalam menghadapi remaja yang sudah mulai berpacaran, idealnya orang tua mulai membiasakan diri untuk berkomunikasi dengan anak tentang topik-topik seksualitas. Selain itu orang tua juga harus terbiasa mengkomunikasikan topik seksualitas dengan anak karena merasa memilki pengetahuan yang terbatas dan atau kurang terampil untuk mengomunikasikan topik tersebut dengan anaknya.

Konflik lain yang dialami remaja dengan orang tua adalah berkaitan dengan pemanfaatan teknologi informasi dan membantu tugas rumah. Dalam penelitian ini penggunaan teknologi informasi seperti HP, internet dan televisi juga menjadi sumber konflik remaja dengan orang tua. Penggunaan ponsel yang berlebihan pada remaja mencerminkan bahwa remaja masih belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang teknologi informasi dan pemanfaatannya. Penggunaan telepon genggam ini akan semakin meningkat ketika remaja memiliki teman dekat atau pacaran. Hal ini akan menimbulkan konflik karena penggunaan HP dipandang sudah berlebihan oleh orang tua dan waktu belajar yang menjadi kurang karena penggunaan telpon genggam. Ada pula remaja yang memanfaatkan ponsel untuk menyimpan dan berbagi gambar/video porno dengan teman-temannya. Sementara itu, untuk penggunaan teknologi internet tidak muncul sebagai konflik karena akses internet dilakukan di luar rumah (melalui warnet) yang tidak secara langsung dapat terpantau oleh orang tua.

  1. Tanggung Jawab

Tanggung jawab untuk membantu tugas rumah juga dianggap sebagai hal yang penting oleh orang tua. Orang tua melibatkan anak dalam pekerjaan rumah tangga untuk melatih tanggung jawab dan kemandirian remaja sehingga memiliki kesiapan yang cukup matang untuk menghadapi kehidupan di masa dewasanya. Apabila remaja disuruh orang tua, namun diam saja, tidak segera melakukan atau justru membantah maka muncullah konflik dengan orang tua.

  1. Sekolah

Konflik selanjutnya yang justru merupakan konflik yang paling banyak dialami oleh remaja yakni berkaitan dengan prestasi belajar. Ini berarti orang tua memandang bahwa prestasi belajar merupakan hal yang penting. Hal ini juga muncul dalam harapan orang tua kepada anak, bahkan menempati urutan yang pertama. Oleh karena itu, orangtua menyampaikan pesan tentang pentingnya prestasi belajar pada anak melalui ungkapan-ungkapan: “sekolah yang benar”, “utamakan sekolah”, “belajar yang sungguh-sungguh”, “pertahankan prestasi’, dan sejenisnya”. Ketika anak tidak memenuhi harapan orang tua misalnya prestasi belajar menurun, tidak belajar, membolos, tidak mengerjakan PR, maka orang tua akan marah.

 

 

Tingginya konflik orang tua-anak tersebut sekaligus juga menunjukkan bahwa dalam keluarga, orang tua belum berhasil menanamkan nilai tentang pentingnya berprestasi bagi anak untuk meraih masa depannya. Konflik tersebut merupakan perwujudan bahwa remaja masih tergantung pada dorongan eksternal untuk belajar, termasuk dalam mengerjakan tugastugas sekolah.

Kesadaran remaja tentang pentingnya berprestasi juga berdampak pada masalah pengelolaan waktu. Hal ini tercermin dalam data aktivitas yang dilakukan remaja ketika bersama dengan temannya lebih banyak bermain untuk mendapatkan kesenangan semata (44,99%). Persentase remaja yang memanfaatkan waktu ketika bersama dengan teman sebaya untuk mendukung prestasi belajarnya seperti belajar kelompok sangat sedikit (10,23%).

Namun demikian, prestasi yang dimaksud oleh orang tua dalam hal ini baru sebatas nilai rapor. Sering kali nilai rapor diasosiasikan dengan kesuksesan seseorang. Orang tua menganggap bahwa dengan anaknya menjadi pandai, yang dalam hal ini tercermin melalui nilai rapor, maka masa depan anak menjadi lebih baik. Sebenarnya konflik antara remaja dan orang tua bukanlah sesuatu yang selalu dimaknai negatif. Hanya saja jika konflik ini tidak dikelola dengan baik akan memunculkan perilaku bermasalah pada remaja.

Oleh karena itu, penanganan konflik remaja dengan orangtua menjadi topik yang penting. Sayangnya, dalam penelitian ini reaksi pertama yang muncul pada orang tua ketika berkonflik dengan remaja justru marah. Reaksi marah ini menyebabkan remaja kurang mendapatkan kesempatan untuk belajar menghadapi konflik secara konstruktif. Hal ini tercermin dari banyaknya respon diam dan mendengarkan saja pada saat remaja menerima nasihat orangtua. Akan tetapi, reaksi selanjutnya yang muncul pada remaja beragam, ada yang mengevaluasi diri, mengakui kesalahan, berjanji untuk tidak mengulangi, namun juga ada yang membantah dan “cuek”.

Dalam upaya melakukan resolusi konflik dengan remaja, orang tua juga memberikan teguran, peringatan, dan nasihat pada remaja. Bila dicermati isi nasihat yang pernah diterima oleh remaja, tampak bahwa nasihat-nasihat orang tua sudah tepat. Akan tetapi, waktu yang dipilih orang tua untuk menyampaikan nasihat pada anak kurang tepat. Kebanyakan orang tua menyampaikan nasihat pada anak dalam situasi konflik seperti saat anak melakukan kesalahan, saat anak melanggar nasihat orangtua, saat prestasi belajar anak menurun dan situasi-situasi lainnya yang kurang mendukung bagi anak untuk melakukan pemrosesan informasi. Konsekuensinya, anak mengalami kesulitan untuk melakukan adopsi nilai-nilai yang disampaikan orangtua, apalagi untuk melakukan internalisasi nilai. Seperti diungkapkan oleh Grusec dan Goodnow (1994) agar anak mampu melakukan internalisasi terhadap nilai-nilai yang disampaikan, terlebih dulu ia harus memahami isi pesan tersebut secara akurat dan menerima pesan tersebut.

Menurut hasil penelitian Padilla-Walker dan Thompson (2005) terdapat empat strategi yang digunakan oleh orang tua ketika menghadapi pesan yang menimbulkan konflik, yakni: Cocooning, Pre-arming, Compromise, dan Deference. Dalam penelitian ini, strategi yang paling banyak digunakan orang tua adalah cocooning yaitu reasoned cocooning dan controlled cocooning. Reasoned cocooning yaitu orang tua secara persuasif melindungi anak dari pengaruh luar, memperkuat nilai-nilai keluarga pada anak, dan memberikan penjelasan yang logis terhadap nilai-nilai yang ditanamkan. Dalam penelitian ini hal yang dilakukan orang tua adalah memberikan nasihat, mengarahkan anak pada perilaku yang diinginkan dan berdiskusi dengan anak mengenai kesalahan yang diperbuatnya. Pada controlled cocooning, orang tua memaksa anak untuk disiplin dan patuh, tanpa memberikan penjelasan atau dasar rasional terhadap larangan-larangan yang diberikan. Dalam penelitian ini orang tua memarahi, memberi peringatan, dan memberikan hukuman pada anak. Kondisi ini menunjukkan bahwa orang tua belum memberikan bekal keterampilan yang memadai pada anak untuk menghadapi konflik nilai, terutama jika anak berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah.

 

Saran dari kelompok

Berdasarkan hasil penelitian di atas apabila dilihat dari segi ketahanan dan pemberdayaan keluarga konflik yang terjadi antara orang tua dan anak dapat dikategorikan pada permasalahan ketahanan psikologis dan sosial pada tugas perkembangan. Oleh karena itu diperlukan beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan tugas perkembangan pada ketahanan psikologis dan sosial, antara lain:

  1. Orang tua harus mengetahui dan memahami bahwa untuk menilai kecerdasan seorang anak tidak hanya di ukur menggunakan nilai akademik tetapi juga dapat melalui prestasi lainnya seperti prestasi dalam olah raga, musik, dan lain-lain.
  2. Orang tua dan anak harus saling berdiskusi tentang masalah seksual agar anak tidak menjadi penasaran sehingga membuatnya mencari tahu sendiri dengan cara yang salah.
  3. Orang tua harus memahami karakteristik anak, seperti mengetahui lingkungan bergaul anak, dengan siapa saja anak berteman. Dan anak dapat memahami atas keinginan orang tua terhadap mereka.
  4. Orang tua harus menjadi model yang baik bagi anak, agar anak memiliki panutan yang baik untuk dicontoh.
  5. Orang tua harus mengetahui perkembangan teknologi yang sedang berkembang, sehingga orang tua dapat memantau anak di jejaring sosial.

oleh:

Kelompok 1B

Hasna Izdihar             (I24080020)

Ita Murdiani                (I24080021)

Annisa Saraswati        (I21080041)

Dita Putri Astrini          (I24080061)

2 comments on “Analisis permasalahan orang tua – anak dalam jurnal “Area konflik remaja awal dengan orang tua: studi kuantitatif pada keluarga di Surakarta”

  • wow…..ternyata banyak juga yahhhhh konflik antara anak dan orangtua.
    semoga konflik antara ortu dan anak dapat berkurang….yahhhh.

  • memang banyak sekali. hal ini biasanya karena ada ketidak pemahaman atas sebuah masalah atau karena ada miss comunication antara orang tua dan anak..
    Aamiin.. ^^
    asalkan komunikasi lancar..

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: