Kekerasan Anak dan Keluarga, Part-1

Published January 14, 2013 by dita8

 

Akhir-akhir ini semakin marak pemberitaan dan pembahasan mengenai kekerasan terhadap anak dan perempuan. Hal ini disebabkan semakin terbukanya kasus-kasus kekerasan yang menimpa kaum perempuan dan anak-anak. Kekerasan yang terjadi pada anak dan perempuan merupakan salah satu dari tindak kekerasan yang terjadi di dalam keluarga. Di Indonesia sendiri, rata-rata jumlah kasus KDRT meningkat setiap tahunnya. 

Padahal sudah ada Undang-Undang yang mengatur mengenai “Penghapusan KDRT” di Indonesia yaitu UUD No 23 tahun 2004. Selain KDRT, juga terdapat Undang-undang yang melindungi anak dari kekerasan yang terjadi. Hal tersebut terdapat pada Undang-undang pasal 28b ayat 2 yang menyatakan “setiap anak harus dilindungi dari kekerasan dan tindakan diskriminasi” (KPAI 2010). Selain itu bagi siapapun yang ketahuan dan kedapatan melakukan tindakan kekerasan pada anak akan menerima hukuman kurungan 15 tahun dan denda Rp 600.000. Memang, hukuman tersebut terlalu ringan dibandingkan dampak psikis yang akan diterima korban dalam waktu yang tidak sebentar.

Kekerasan yang biasanya terjadi di keluarga sendiri terdapat beberapa jenis, antara lain:

1. Kekerasan Fisik, kekerasan ini pada umumnya menghasilkan bekas berupa luka ataupun lebam, baik yang ringan hingga yang menyebabkan kelumpuhan hingga kematian. Kekerasan fisik lebih mudah untuk dikenali. Hal ini dikarenakan akibat yang dihasilkan terlihat dengan jelas dan pada umumnya membekas.

2. Kekerasan seksual, kekerasan ini sedang marak dibicarakan di berbagai media informasi mulai dari radio, koran hingga televisi. Kekerasan seksual merupakan jenis kekerasan karena adanya tindakan pelecehan seksual mulai dari ringan hingga yang berat berupa pencabulan, sodomi, pemerkosaan ataupun incest. Tindakan kekerasan ini sedikit lebih sulit untuk diketahui terutama apabila terjadi pada anak-anak. Hal ini dikarenakan adanya perasaan malu atau takut untuk melaporkan dan mengakui telah menjadi korban kepada pihak keluarga atau kepihak berwajib

3. Kekerasan psikis, jenis kekerasan ini masih jarang atau sedikit orang yang menyadari bahwa mereka mengalami kekerasan jenis psikis. Kekerasan psikis adalah kekerasan yanhg dilakukan seseorang yang mengakibatkan timbulnya tekanan mental hingga trauma hebat atau hingga menimbulkan gangguan jiwa. Kekerasan ini dapat berupa verbal (dalam bentuk perkataan atau umpatan) serta fisik.

4. Selain itu ada pula kekerasan yang berupa “Eksploitasi” dan “Penelantaran” anggota keluarga.

 

Di Indonesia sendiri jumlah kasus KDRT meningkat setiap tahunnya. Menurut data kasus KDRT yang terlapor yang didapatkan oleh KPPPA, ditemukan pada tahun 2009 sejumlah 143.586 kasus, 2010 sejumlah 105.103 kasus, dan tahun 2011 sebanyak 119.107 kasus (Republika 2012). Sedangkan untuk kasus kekerasan pada anak, KPAI juga mencatat terjadinya peningkatan jumlah kasus kekerasan (Antara 2012). Pada tahun 2009 tercatat 1552 kasus, 2010 sebanyak 2.335 kasus, dan 2011 sebanyak 2.508 kasus (Antara 2012). Dan untuk daerah jaboderabek, pada tahun 2012 terdapat 2637 kasus dimana sebanyak 48% atau 1075 kasus merupakan kekerasan seksual (berupa sodomi, pemerkosaan, pencabulan, hingga incest) (Republika 2012).

Selain itu, KPAI juga mendapatkan pada tahun 2011 para pelaku kekerasan tersebut tidak hanya berasal dari lingkup keluarga namun juga melibatkan guru sekolah. Jika dijadikan persentase maka pelaku kekerasan rumah tangga dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu: 44.32% orangtua kandung, 25.9% teman, 10.9% tetangga, 9.8% orangtua tiri, 6.7% guru sekolah, dan 2% adalah saudara (Antara 2012). Sikap bulliying yang diterima anak baik dari teman ataupun dari guru dapat kita masukkan kedalam kekerasan psikis atau psikologi. Hal ini dikarenakan sikap bully yang diterima anak dapat mengubah perilaku anak menjadi lebih pemalu, tertutup, dan takut untuk bertemu orang terutama teman sekolah atau pergi sekolah.

Data-data lain juga dapat dilihat di website immcnews.com , di situs tersebut tersajikan banyak sekali data hasil riset mereka mengenai kekerasan pada anak. Berdasar hasil riset media yang dilakukan sejak tanggal 23 Juli 2011 hingga 15 Juli 2012 oleh IMMC (Indonesia Media Mentoring Center ) terhadap korban kekerasan seksual didapatkan beberapa hasil yang cukup mencengangkan dan mengagetkan kita. Sebanyak ±60% kekerasan yang terjadi pada anak merupakan kekerasan fisik dan emosional, dimana 33% kekerasan fisik, 30% kekerasan emosional, dan 23% merupakan kekerasan seksual. Dengan persentase dampak yang terjadi pada anak sebanyak 59% dampak psikologis, 24% dampak fisik, dan 7% dampak kematian. Seperti yang kita lihat lebih dari separuh korban memiliki dampak psikologis baik yang ringan hingga berat yaitu mengalami gangguan jiwa.

Berdasarkan data yang didapat IMMC, korban kekerasan anak sebanyak 32% berada pada usia 13-15 tahun, 27% berusia 16-18 tahun, 20% berusia 7-12 tahun, 12% berusia 0-4 tahun, dan 7% berusia 5-6 tahun. Dari data yang didapat, lebih dari separuh korban merupakan para remaja yang masih dalam masa pencarian jati diri dan suka mencoba hal-hal baru, serta sudah lebih centil dan genit terhadap lawan jenisnya. Oleh karena itu apabila para pihak yang terkait kurang mengawasi dan memberikan batasan untuk beberapa hal maka kemungkinan remaja mengalami kekerasan semakin besar.

Sedangkan pelakunya hampir tidak jauh berbeda dengan hasil yang didapatkan oleh KPAI. Hanya saja pembagiannya menjadi lebih kecil yaitu 42% dilakukan oleh ayah, 34% dilakukan oleh ibu, dan 15% dilakukan oleh guru. Sepatutnya orang tua dan guru adalah pihak yang melatih, melindungi, dan mengayomi bukanlah sebagai pihak yang melegalkan kekerasan terjadi pada anak.

Dan sebanyak 78% kekerasan dilakukan oleh pihak laki-laki. Akan tetapi, ternyata lembutnya hati wanita dan anggunnya pesonanya tidak menyurutkan wanita untuk melakukan kekerasan. Hal ini dapat dijelaskan dengan 22% kekerasan dilakukan oleh seorang wanita. Sedangkan korban baik laki-laki dan perempuan adalah seimbang jumlahnya. Selain itu untuk pelakunya sendiri jika dikategorikan berdasarkan umur didapatkan sebanyak 45% dilakukan pelaku berusia lebih dari 36 tahun. Selain itu, 23% dilakuakan orang yang berusia 25-36 tahun, 14% berusia 19-24 tahun, 8% berusia 16-18 tahun, dan 8% lainnya berusia 13-15 tahun. Dari data tersebut terlihat lebih dari separuh pelaku berada pada kategori dewasa awal. Seharusnya orang yang berada pada kategori ini sudah dapat dengan matang membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, serta telah memiliki prinsip hidup yang jelas dan pemikiran yang logis dan sistematis. Akan tetapi disayangkan karena beberapa hal kondisi usia tidak dapat menjadi patokan seseorang untuk tidak berbuat yang merugikan masa depan orang lain.

One comment on “Kekerasan Anak dan Keluarga, Part-1

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: