Mengagapa kita harus mengurangi penggunaan kata “JANGAN”?

Published November 11, 2014 by dita8

“Jangan main di luar”, “Sudah berapa kali dibilang, jangan main pasir”, “Jangan lari-lari”
Seringkah anda mendengarkan kalimat perintah demikian? Atau, pernahkah anda menggunakannya kepada anak anda?
Penggunaan kata larangan “JANGAN” sedikit sulit untuk dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dikarenakan penggunaan kata ini adalah untun melarang seseorang melakukan sesuatu. Tapi apakah penggunaan kata tersebut sudah tepat jika digunakan pada seorang anak kecil?

Bunda, ayah dan para pembaca sekalian (mungkin di beberapa pandangan pasti akan berbeda) sebenarnya bukan tidak boleh menggunakan kata “jangan” kepada anak, akan tetapi sebaiknya kita kurangi intensitasnya. Terutama ketika anak masih kecil yah.

Kenapa? Hal ini dikarenakan mereka (anak-anak) cenderung akan mendengarkan bagian akhir dari kalimatnya saja. Sebagai contoh, “Jangan lari-lari”, yang terdengar oleh mereka adalah “lari-lari” atau “jangan petik bunganya”, nah yang kemungkinan terdengar oleh mereka adalah “petik bunganya”.
Selain itu ada beberapa hal lainnya mengapa kita sebaiknya mengurangi intensitas penggunaan kata jangan, dari berbagai sumber yang saya baca didapatkan beberapa hal, antara lain:

1. Kata jangan itu dapat menghentikan atau memotong aktivitas yang sedang di jalankan oleh anak akan tetapi tidak menghentikan perilakunya atau sifatnya. Maksudnya bagaimana?
Contohnya seperti ini, seorang anak sedang mencoret-coret dinding dengan bolpoin, lalu sang ibu berkata “jangan di coret dindingnya”. Nah disaat itu juga sang anak bisa jadi menghentikan tingkahnya, akan tetapi bisa saja terjadi besok atau di lain waktu sang anak akan mengulanginya kembali.

2. Kata jangan bisa mengurangi pilihan-pilihan yang ada. Untuk sebagian anak kata jangan itu dapat berarti selama-lamanya. Kan sayang yah, kalau ada sesuatu yg sebaiknya tidak ia lakukan saat ini (krn umur atau tinggi badan yg tidak mencukupi) dapat berdampak ke depannya yaitu ia tidak mau melakukannya,🙂

3. Kata jangan dapat memendamkan atau juga malah mematikan kreativitas anak itu sendiri. Karena dengan terlalu seringnya kata jangan digunakan, bisa jadi anak akan merasa kurang PD dan takut untuk melakukan sesuatu atau berkembang (selain itu, pilihan-pilihan mereka untuk mengeksplore diri agar dapat berkembang semakin sedikit). Kasihan kan jika anak kita menjadi anak yang kurang kreatif.

4.Terkadang ketika kita mengucapkan kata jangan itu tidak diiringi dg pemberian solusi kepada anak itu sendiri. Nah kalau seperti ini bagaimana? Mungkin begini, ada kondisi dimana kata “jangan” di ucapkan akan tetapi diiringi dengan alasan dan solusi untuk memecahakan, jadi anak lebih mengerti dan memahami.

Pada dasarnya bunda, ayah dan para pembaca sekalian, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menggantikan kata jangan tersebut. Contohnya, “jangan lari disini”, bisa kita ganti dengan “adik kita lari di luar atau tempat lain yuk”. Atau “jangan suka mukul teman” kita ganti “adik, sayang teman yah”. Ataupun penggunaan padanan kata yang lain.

Kata “jangan” memang terkadang lebih efektif dalam memberitahukan dan menetapkan sebuah peraturan, tapi terkadang memberikan dampak ke depannya. Jika kata “jangan” digunakan untuk mendisiplinkan anak, maka dari bahan yg dita baca” Disiplin itu lebih kearah mendidik dan mengajar bukan kepada memarahi”. Mari ibu, ayah dan pembaca kita harus lebih kreatif lagi dalam mengasuh anak agar anak menjadi lebih kreatif, berkarater, dan lebih Percaya Diri.

2 comments on “Mengagapa kita harus mengurangi penggunaan kata “JANGAN”?

    • Terimakasih pak hangga.
      Untuk hal-hal tertentu kita dapat menggunakan kata jangan. Akan tetapi alangkah lebih baiknya apabila kita mengajak anak untuk berdiskusi dan bertukar pendapat mengenai bahaya rokok itu sendiri.
      Apalagi jika anak dalam usia remaja pak hangga, apabila kita g hati-hati dan banyak melarang tanpa memberikan penjelasan maka dia akan lebih berulah pak.
      Semoha bisa menjawab, jika ada salah dalam penyampaian saya mohon maaf
      Terimakasih

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: